Asuwok!

Rasanya setiap kali ada kawan angkatan 1996 lulusan SMA Kolese De Britto yang meninggal dunia, hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi Damben atau sebaliknya dia yang menghubungiku duluan. Damben adalah Damar Benni, sahabat yang sangat dekat sejak SMA dulu yang tetap terjaga hingga sekarang.

Kata pertama yang kami ucapkan, entah waktu Dedi meninggal, Fook Kuang, Gama, Opang, Cawet atau yang lain termasuk Felicianus Adhi Wibowo yang kemarin berpulang, adalah “Asuwok!”

Yang agak lain sejauh ini barangkali ketika Yudith meninggal, Januari 2025 silam. Bukan “Asuwok” tapi “Ben! Yudith mati Ben! Bajingaaaaaannn!”

Aku, Yudith dan Damben memang bersahabat erat saat SMA dulu. Yudith meninggal di saat yang bersamaan di waktu yang berbeda ketika aku dan Damben sedang makan di Jakarta jadi kalian bisa bayangkanlah seberat apa aku menerima kabar pagi itu dari Choqbun (nama aslinya Richard tapi you know lah kenapa dipanggil begitu…. kawan angkatanku yang tinggal di New Zealand) yang menulis di WA, “Thuk! Yudith seda Thuk!” (Panggilanku SMA adalah Bathuk!)

Lalu kenapa asuwok? Kenapa bajingan? Kenapa misalnya bukan “Duh sedih ya..” atau “Hedoopp Jokoweee” misalnya?

Asuwok dan bajingan bagi kami bukanlah umpatan. Ia lebih seperti penyangat makna dan suasana aja. Membuat segala sesuatunya lebih bersaturasi. Kayak terasi dan garam dalam adonan sambal deh. Gak tau apa kontribusinya tapi kalau tanpa ada keduanya rasanya beda, kan?

Iya! Beda! Itu kuncinya.
Dalam konteks yang lebih ringan, ibaratnya seperti dulu, ketika kami masih sama-sama duduk di bangku SMA. De Britto kan isinya cowok semua. Lalu setiap pulang sekolah, ada banyak dari kami menyambangi SMA Stella Duce 1 yang isinya cewek semua untuk sekadar tethek (Tethek itu istilah dalam Bahasa Jawa khas Jogja yang artinya ‘nongkrong’ bukan ‘tetek’ yang artinya menyusu meski mungkin abis tethek kemudian mereka tetek ya itu urusan lain hahaha!).

Lalu ketika asik-asiknya tethek sambil menunggu para tet.. eh para murid itu keluar dari sekolah lalu ada aja yang tiba-tiba bilang, “Eh, aku tak mulih sik yo!” Dan kami menimpali dengan “Asuwokkk.. ngopo kok mulih gasik?”

Atau ketika malam minggu tiba. 
Setelah mengembalikan pacar masing-masing ke habitatnya, kami berkumpul entah dimana untuk perjamuan. Lalu sembari menyiapkan es, mengoplos minuman beralkohol dengan minuman beralkohol lainnya atau melinting cimeng (halah!) dan tiba-tiba ada aja yang bilang “Eh, aku tak mulih sik yo!” Dan kami menyahut “Bajingaaaann! Ngopo kok mulih gasik kan durung mulai perjamuane?”

Tapi dari situ, kami jadi lebih menghargai kawanan dan perkawanan ini.

Bahwa kami masih hidup meski makin menyedikit itu ya hukum alam!  Tapi bahwa kami yang masih diberi waktu ini kemudian semakin saling mengasihi dan memperhatikan, mendoakan dan memaafkan jika ada salah di belakang… itu adalah keputusan!

Doakan saja semoga kami, kawan-kawan seangkatan yang makin mendekati usia lima puluh tahun ini, tak terlalu sering ber-asuwok dan ber-bajingan untuk melepas teman ke keabadian ya! Meski aku bingung dan penasaran juga sih, kalau nanti ketika semua dari kami sudah berpulang lalu tinggal ada satu anak dari angkatan yang masih tersisa dan hidup, dengan siapa dia akan berasuwok dan berbajingan?

Selamat beristirahat kawan-kawan baikku!
Ngopo tho do mulih gasik? Asuwok!

Sebarluaskan!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses