
Haih!
Nggak terasa sudah tinggal seminggu lagi dan aku harus meninggalkan kantor ini, sementara masih ada buanyak sekali barang yang mesti diberes-bereskan, ditempatkan pada boks-boks
yang telah kusediakan untuk kemudian kubawa sebagian ke rumah orang tua di Klaten dan sebagian lagi ke Sydney.
Masalah terbesar adalah pada soal pakaian.
Aku tak pernah merasa memiliki pakaian yang maha banyak hingga akhirnya tadi, ketika membuka almari pakaianku dan gubrakkk! Apa yang harus kulakukan menghadapi pakaian sebanyak ini?
Bahkan ada yang baru sekali dipakai? Kenapa bisa sebanyak ini?
Lalu akupun jadi ingat bahwa aku bisa menimbun pakaian itu pertama-tama adalah buah dari rasa malasku untuk mengantarkan pakaian kotor ke laundry langgananku.
Aku biasa melempar begitu saja pakaian kotor ke boks khusus pakaian kotor tapi lupa untuk selalu membawanya ke laundry, lalu ketika pakaian di lemari habis aku akan berujar
“Oh, kenapa bajuku pada habis? Ah ya sudahlah aku beli lagi saja”
Lalu belilah aku pakaian baru padahal kalau dulu sudah sarjana barangkali aku akan lebih pintar dan bijak lalu berpikir “Oh jelas pakaian di lemariku habis lha wong pakaian kotorku
masih menumpuk di boks…”
Ah untunglah aku sekarang sudah sarjana.
Lalu bagaimana ini? Kemana harus kubawa pakaian-pakaianku?
“Berikan pada orang lain yang membutuhkan!”
Demikian bisik suara bijak di telinga hatiku (emang ada telinga hati?!?)
OK, kulakukan.. mulailah kukeluarkan semua koleksi pakaianku lalu kupilah-pilahkan mana yang masih kusukai dan mana yang bisa kuberikan pada orang lain.
Sepotong demi sepotong pakaian sudah kupikirkan dan ternyata… cuma ada tiga potong yang menurutku bisa kuberikan pada orang lain dan selainnya itu …
tak terlalu kurelakan untuk kuberikan pada orang lain.
“Semua masih terlihat bagus-bagus, kenapa harus diberikan ke orang lain?” gumamku yang seorang sarjana baru.
Andai saja aku sudah sarjana sejak lama barangkali aku akan memberi jawab atas pertanyaanku sendiri itu dengan “Oh ya jelas masih bagus-bagus lha wong rata-rata cuma dipakai sekali
lalu teronggokkan begitu saja di lemari!”
Yah maafkanlah, namanya juga sarjana baru, baru saja jadi sarjana.
Persoalan kedua yang sama persis dengan soal pakaian adalah apalagi kalau bukan koleksi buku.
Oh, jelas, koleksi Pramoedya Ananta Toer-ku tak kan kuberikan ke orang lain sampai kapanpun, maka kusisihkan terlebih dahulu sekitar 40-an bukunya ke dalam boks tersendiri.
Lalu sisanya?
Mulai kupilah-pilah satu per satu dan ini lebih parah ketimbang pakaian karena tak satupun yang sanggup kujadikan buku yang “bisa” kuberikan ke orang lain.
Rasa-rasanya aku tak pernah membeli buku yang aku tak suka untuk membacanya dan mengulang-ulang lagi membacanya, maka itulah alasanku untuk tidak memberikannya!
Lalu CD? Nah ini masalah pula karena sama dengan buku, aku tak pernah membeli CD yang tak kusuka maka dari itu jelas tidak ada yang kuberikan ke orang lain pula.
So apa yang bisa kuberikan pada orang lain?
Entahlah… barangkali nanti saja dekat-dekat Lebaran seperti biasa aku akan memberikan bingkisan bagi para Tunggonono yang telah setia menemani, bukan barang bekas tapi barang baru.
Untuk orang lainnya lagi? Wah, entahlah belum terpikirkan tapi barangkali doa adalah hadiah terbaik bagi mereka (sekaligus alasan betapa pelitnya aku untuk memberikan apa yang telah
menjadi milikku selama ini!)
Ya Bapa, ampunilah aku!

Tinggalkan Balasan