Apakah orang Katolik tidak boleh kaya?

12 Jun 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini 12 Juni 2017

Matius 5:1 – 12
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Renungan

Aku ingin membawa permenungan hari ini dengan memulai satu pertanyaan singkat, “Apakah orang Katolik tidak boleh kaya?”

Matius, penulis Kabar Baik hari ini, tidak sekali ini saja menulis tentang ‘kaya-miskin’. Dalam bukunya yang ke-19, ia mengutip apa yang dikatakan Yesus bahwa sesungguhnya sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan satu perbandingan yang hampir mustahil, “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (bdk Matius 19:23).

Nah, hari ini ia menuliskan lagi apa yang dikatakan Yesus, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Jadi?
Perlukah kita menjual semua harta milik kita? Handphone? Televisi? Kompor? Kulkas? Semuanya dan semuanya supaya nanti bisa meloloskan kita masuk ke dalam Kerajaan Allah?

Tapi kalau begitu lantas bagaimana cara kita menghubungi rekanan bisnis kalau tidak lewat handphone padahal kita perlu mencairkan dana guna keperluan biaya anak-anak sekolah?

Bagaimana juga dengan makanan-makanan yang harus kita dinginkan sebelum dihidangkan kalau kulkas dijual? Televisi? Bagaimana menonton acara ‘mimbar keagamaan’ kalau tak ada televisi?

Duh! Harta juga harus diberikan semuanya? Padahal kita sudah diharapkan panitia pembangunan gereja untuk turut membantu sisi finansial! Bagaimana ini?

Bagiku, kita harus miskin di hadapan Allah karena seperti yang ditulis Matius dalam Kabar Baik ini, merekalah, yang miskin di hadapan Allah itulah, yang akan memiliki Kerajaan Surga.

Miskin di hadapan Allah lebih pada pernyataan sikap untuk merasa tak ada apa-apanya, lemah dan tanpa daya jika hidup ini tidak mengandalkan Allah saja!

Mudah? Kalau saat kita miskin harta mungkin mudah tapi kadang ketika kita diberi ‘asupan rejeki’ sedikit lebih banyak dari yang biasanya, sombongnya muncul bukan kepalang!

Merasa sudah bekerja keras membanting tulang untuk mendapatkan semuanya, bagai kacang lupa pada kulitnya berkoar, “Kalau kita sudah bisa mendapatkan semuanya apa perlunya Tuhan dan agama? Buang-buang waktu saja! Mending waktu yang digunakan untuk hadir dalam perayaan misa dan sembahyangan lingkungan dipakai untuk cari uang toh untuk keluarga!?”

…dan hal ini lambat laun akan membuat untamu bertubuh kian tambun sehingga ketika harus melewati lubang jarum untuk sampai kepada Kerajaan Allah? Semakin mustahil bukan?

Marilah kita memohon kepada Allah rahmat kebijaksanaan untuk mengelola harta karena tak jarang orang sangat mudah mencari tambahan isi lumbung-lumbung uangnya tapi sangat susah untuk bertelut, berlutut di hadapan Allah dan mengaku bahwa Ialah empunya segalanya termasuk harta-harta yang ia kumpulkan selama ini.

Jadi? Mau tetap kaya atau berani miskin? Miskinlah di hadapan Allah!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.