Apakah jujur selalu menjadi pilihan terbaik?

2 Jan 2019 | Kabar Baik

Yohanes Pembaptis itu sosok yang jujur! Kalau mau, dia bisa saja mengaku sebagai Mesias yang dirindukan. Tapi tidak! Bahkan saat ditanya apakah dia itu Elia, Yohanes pun menjawab bukan.

“Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.” begitu kata Yohanes menerangkan tentang hakikat dirinya. (lih. Yoh 1:23)

Jika ada orang bertanya siapakah dirimu, apa yang akan kamu jawab? Akankah kamu juga menjawab dengan jujur?

Kalau kamu tanya ke orang-orang yang saat ini sedang sibuk mencalonkan diri entah jadi presiden, wakil presiden atau wakil rakyat dengan satu pertanyaan, ?Siapakah dirimu?? Jawaban mereka barangkali standard: ?Aku adalah orang terbaik yang wajib kamu pilih untuk memimpin atau menjadi wakil!? 

Tapi benarkah? Sudahkah mereka jujur?

Jika memang ada yang lebih hebat dari dirinya kenapa masih tetap berani mengatakan diri sebagai ?yang terbaik?? Karena syahwat kekuasaan belaka? Bisa dibayangkan kacaunya sebuah negeri jika dipimpin seorang yang untuk mengakui kekurangan dirinya pun tak bisa!

Tapi apakah sejatinya kejujuran itu adalah jalan dan cara terbaik untuk menjawab identitas kita?

Santo Petrus menolak untuk jujur ketika ditanya apakah ia kenal dengan Yesus. Peristiwa ini dikenal dengan istilah penyangkalan Petrus sebelum ayam jantan berkokok di Jumat Agung saat Yesus didera.

Kita diajar untuk tidak menyangkal seperti Petrus tapi pernahkah kamu membayangkan jika Petrus tak menyangkal waktu itu? Bisa saja Petrus ditangkap dan dibunuh. Kalau Petrus dibunuh saat itu, siapa yang lantas menjadi Paus pertama?

Pernah juga aku ngobrol dengan seorang yang keluarga besarnya dulu dikejar-kejar karena dicap PKI. Mereka harus memalsukan identitas supaya tak terendus sebagai anggota PKI karena kalau ketahuan ?habislah? mereka. Di titik ini bagaimana kita menilai kejujuran? Kalau mereka tak berbohong soal identitas bukankah kawanku tadi tak pernah dilahirkan karena orangtuanya sudah lebih dahulu dibantai?

Apakah kejujuran itu bisa dikompromikan? Termasuk tentang identitas?

Kalau kamu siapa, Don?
Aku? Tergantung! Hahaha?

Sydney, 2 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.