Apa sih efek setelah diampuni dosa olehNya? Nyaman atau justru? tidak nyaman?!

18 Jan 2019 | Kabar Baik

Di depan para ahli Taurat, Yesus mengampuni dosa seorang lumpuh yang datang dengan digotong ke atap lalu diturunkan oleh keempat orang untuk sampai kepada Yesus.

“Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” begitu kataNya seperti ditulis Markus dalam Markus 2:5.

Tentu hal tersebut membuat panas para ahli Taurat, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Markus 2:7).

Ya!
Yesus dianggap menghujat Allah karena memang tidak ada yang berhak untuk mengampuni dosa kecuali Allah sendiri. Tapi apa yang dilakukan Yesus kemudian membuat para ahli Taurat itu berpikir lebih dalam, ?Jangan-jangan orang Nazareth anak orang kayu ini adalah Yang Datang Dari Allah??

Yesus menyembuhkan si lumpuh sehingga ia bangun dan mengangkat tempat tidurnya sendiri ke rumah! Orang-orang yang ada di sekeliling pun takjub dan hanya bisa berujar, “Yang begini belum pernah kita lihat.” (Markus 2:12)

Aku tak tahu bagaimana reaksi para ahli Taurat karena Markus tak menulisnya. Tapi barangkali ya makin panas dan ?kehilangan muka.?

Apa yang bisa kita renungi tentang Kabar Baik hari ini dan bisa kita gunakan dalam hidup sehari-hari?

Mari kalian bersama-sama denganku untuk mengambil posisi sebagai si lumpuh yang tak hanya diampuni dosanya tapi juga disembuhkan. Aku membayangkan hidupnya sesudah peristiwa itu bukannya lebih mudah tapi barangkali justru akan lebih banyak tantangan.

Kenapa?
Setiap tindak-tanduknya akan jadi pusat perhatian semata karena Yesus bilang kepadanya bahwa dosanya telah diampuni. Orang-orang ingin tahu seperti apa sih perbedaan orang yang sudah diampuni dosanya oleh Yesus dan yang belum/tidak. Apakah ia akan berubah jadi tak bisa berbuat dosa lagi atau tetap saja?

Dan sebenarnya kitapun sama dengan si lumpuh itu. Markus menulis Kabar Baik hari ini hendak mengajak kita untuk berpikir secara reflektif bahwa kita ini telah diampuni dosaNya oleh Yesus sejak Ia menebus dosa di kayu salib dan kita tanggapi dengan menyediakan diri dibaptis. Kita juga telah dibangunkan dari kelumpuhan, dari hidup masa silam untuk menjadi manusia baru.

Adapun menjadi manusia baru itu bukan berarti lebih mudah dari sebelumnya, justru banyak tantangan karena semua mata tertuju pada kita akan seperti apakah kita setelah diperbaharui? Sama? Tidak sama?

Akupun merasakannya?
Terlebih setelah menulis renungan Kabar Baik setiap hari sejak empat tahun silam, aku merasa gerak-gerikku diperhatikan. Ini bukan karena aku ?sok ngerasa? aja lho, tapi aku sadar diri bahwa sejak aku menyatakan untuk lebih serius dalam beragama dan menyiarkan Kabar Baik, di titik itu pula orang akan lebih fokus menakar keseriusanku tadi.

Jika aku menunjukkan tingkah yang tak benar, orang tentu akan mempertanyakan, ?Seperti inikah tingkah laku seorang yang mengaku mengerti Kabar Baik Tuhan??

Tak nyaman? Iya! Tapi aku berbahagia atas ketidaknyamanan itu. Tidak nyaman adalah tanda bahwa kita ini masih hidup sehingga secara manusiawi kita masih merasakan pertentangan dalam diri untuk menurut atau membelot dari kehendak dan rencana Bapa.

Kalau nyaman-nyaman saja hati-hati!

Bisa jadi seseorang tak benar-benar berusaha menjalankan ajaranNya atau bisa pula ia sudah mati karena kita percaya di alam nanti rasa tidak nyaman itu akan lenyap karena tak ada lagi pertentangan.

Jadi kalau kamu merasa justru semakin tidak nyaman setelah diselamatkan dan berani bersaksi bagiNya, syukurilah!

Sydney, 18 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.