Kalau kalian muntah-muntah membaca tulisan ini dan melihat video ini,? jangan khawatir, itu wajar. Aku sendiri sempat bersin-bersin kok dibuatnya!
Bagaimana tidak! Wakil rakyat yang harus mampu menjadi wakil dari rakyat yang semakin pintar (meski tak jarang ada pula yang semakin bodoh), di hadapan rakyat yang tinggal di luar negeri yang kebanyakan untuk berstudi, studi mutakhir, malah menunjukkan kepongahannya menyangkut soal alamat email resmi komisi. (Bagi yang belum mbaca dan nonton, silakan diklik dulu link-link di atas, kutunggu di sini… kalau sudah dilanjut baca di sini lagi ya!)
Kepongahan mereka itu sebenarnya bukan mutlak salah mereka sih. Mereka bisa menyalahkan sang waktu karena kalau pertanyaan itu dilempar ke mereka 10 tahun silam, barangkali kita tak sampai muntah-muntah dan bersin-bersin mendengar jawabannya. Tapi sayangnya pertanyaan itu dilempar baru-baru ini, tahun 2011 dimana email adalah sesuatu yang lazim dan awam sama halnya kita menyebut sambal pada makanan, jeans pada ragam busana yang kita kenakan, dan ciuman pada cara berpacaran.
“Berarti pola pikir mereka tertinggal 10 tahun di belakang masa ini, Don?”
Nggg… masih salah juga sebenarnya! Bukan 10 tapi 20 tahun bahkan lebih! Karena tahukah kamu, seorang Ratu Elizabeth II, menurut situs Answer.com, mengirim email pertama kali adalah pada 26 Maret 1976!
Tapi baiklah! Mari kita lupakan saja kasus konyol tentang “Apa alamat email resmi komisi” itu karena sebentar juga masalah ini juga akan menguap tergantikan isu-isu media lain di televisi-televisi kita, seperti biasa. Ada baiknya, momentum “Apa alamat email resmi komisi” ini kita manfaatkan untuk menggali adakah kebodohan-kebodohan kita sendiri, terkait dengan kegagapan kita pada saat pertama kali berkenalan dengan teknologi e-mail itu.
Kalian geleng kepala? Nggak punya? Baiklah! Ini kubagikan kebodohan-kebodohanku saja. Seperti biasa, kalian kan paling senang kalau aku membodoh-bodohkan diri sendiri :) Enjoy!
www.bathoek@mailcity.com
Ini adalah kebodohan terparah! Sangat parah, malah!
Ceritanya, di akhir dekade 90-an, aku mendaftarkan diri di Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta (biasa disebut sebagai ILUNI DeBrittoNet) secara online. Sama dengan kebanyakan ragam pendaftaran online, email adalah salah satu kolom wajib isi.
Dengan penuh percaya diri lalu aku tuliskan pada kolom jawaban sebagai “www.bathoek@mailcity.com” padahal alamat emailku sebenarnya adalah bathoex@mailcity.com.
“Lalu kenapa kububuhi awalan ‘WWW’ di depannya?” seorang teman pernah bertanya kepadaku beberapa tahun sesudahnya.
Aku mringis kepongahan… lalu kujawab sekenanya, “Biar mantep!”
Mantep salahnya! Mantep begonya! :)
Share Password
Bukan kebodohan sebenarnya tapi lebih pada keteledoran. Masa dimana aku mulai tertarik pada internet adalah masa awal-awal internet dikenal luas di Indonesia. Saat itu adalah pertengahan hingga akhir dekade 90-an dan koneksi internet belumlah semudah ditemukan seperti sekarang ini.
Salah satu cara termudah untuk mendapatkan akses internet saat itu adalah dengan menyewa komputer di warnet. Namun sayang, kocek mahasiswaku tak sanggup melunasi hasratku untuk selalu berhubungan dengan internet.
Maka jadilah, ketika ingin membuka dan membaca email, akal bekerja. Aku menghubungi kawan yang sedang punya uang untuk pergi ke warnet. Kepadanya kutitipkan sekeping disket dan secarik kertas berisi alamat email dan passwordnya. “Eh, titip buka’in emailku ya! Kalau ada unread message, tolong isinya kamu copy-kan ke disket ini!” Lalu sesudahnya, aku tinggal menunggu disketku kembali dari teman itu tadi, lalu membuka copy-an email di komputer pribadi.
Namun sayangnya, karena sama-sama mahasiswa yang koceknya pas-pasan, aku toh tak bisa hanya mengharapkan seorang teman saja untuk melakukan copy email itu. Pada akhirnya aku minta tolong ke beberapa teman lalu ke banyak teman untuk melakukan hal yang sama.
Mereka tidak menolak dan mereka toh juga tidak ‘macam-macam’ dengan email accountku, tapi secara prinsip, aku telah membagikan akun email yang seharusnya milik pribadi itu jadi milik bersama-sama.
Seperti layaknya pelacur, ‘tubuhnya’ bebas di-‘pakai’ oleh siapapun yang punya ‘password’ nya. Eh, lho kok tiba-tiba analoginya jauh lari ke pelacur sih? Kita kan lagi bahas email ya?
Hint Question
Kalian tahu hint question?
Pertanyaan yang akan selalu diajukan oleh penyedia jasa layanan (dalam hal ini) email ketika kita lupa password dan memohon pada penyedia jasa untuk me-reset-nya.
Tujuannya tentu untuk meyakinkan bahwa yang meminta peng-reset-an password adalah kita, pemilik email yang sah.
Hint question biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti “Siapakah nama Mamamu saat belum menikah?” atau “Mana kota kelahiranmu?”
Nah, masih di akhir dekade 90-an, dengan polos aku mengisi hint question itu dengan jawaban-jawaban yang jujur. Pada sebuah akun email yang kubuat, aku mengisi kota kelahiran dengan singkat, padat dan jelas, “Klaten”.
Dengan mudah, beberapa orang teman lantas bisa ‘membobol’ emailku. Caranya? Ya dengan memohon pe-reset-an password pada provider. Ketika mereka bertanya “Dimana kota kelahiranmu?” mereka tinggal ketik “K L A T E N” karena memang aku kelahiran Klaten.? Password baru pun mereka dapatkan sekaligus menghapus password lama kepunyaanku.
Eh, itu kejadian 12 tahun silam dan sekarang tahun 2011, adakah diantara kamu yang masih sok polos dan sok jujur ketika mengisi kolom jawaban dari Hint Question? Hayo! Buruan ganti dan berhati-hatilah! Jangan sok polos dan naif dengan mengisi jawaban Hint Question” dengan jawaban yang sebenarnya…
Putus? Hack!
Suatu pagi masih di masa itu, seorang ‘teman dekat’ mengirimku email dari sebuah alamat email lain yang juga milikku.
“Jadi kemarin itu kita udah resmi putus ya?”
Kagetku bukan kepalang!
Bukan, bukan karena kaget dengar kata “putus” karena kan kusebut ia hanya ‘teman dekat’! :)
Tapi lebih karena bagaimana mungkin dia mengirim email dari akun email yang kumiliki? Aku bergegas log in ke akun email itu menggunakan password yang kemarin kupakai untuk mengaksesnya, namun… GAGAL! Dibilang “Wrong password!”
Aku lantas mencoba menelpon ‘teman dekat’ itu namun tak kunjung diangkat. Beberapa jam kemudian, aku menerima email lagi darinya menggunakan akun emailku,
“Kamu nggak perlu telepon aku… kan kita udah resmi putus kemarin?!”
Dan itu adalah kali terakhir aku mau share password dengan kekasihku. Baru dua tahun lebih belakangan ini aku mau kembali share password dengan seorang mantan kekasihku, istriku! :)
Tinggalkan Balasan