Sebagai orang yang sangat menikmati Jogja dekade 90an, Sheila on 7 adalah sesuatu yang tak mungkin untuk tak kunikmati juga.
?Menikmati? disini bukan hanya mengacu pada musiknya, tapi juga mengamati betul kiprah mereka, bagaimana mereka berawal mula dari jalur indie hingga akhirnya menjadi ?gelembung? musik tak hanya di Jogja tapi di tingkat nasional bahkan pernah juga bicara banyak di tingkat regional Asia Tenggara.
Jadi, tak afdol jika aku berniat menulis tentang tokoh-tokoh muda Jogja tanpa melibatkan tak satupun ?orang? Sheila on 7, mumpung mereka masih bisa dikategorikan muda.
Tapi di sini sisi dilematisnya.?Kalau aku harus mewawancarai Sheila on 7, siapa yang harus kuwawancara? Personil yang mana? Bagaimana kenalannya?
Hal ini lantas kugantungkan begitu saja, tak terjawab. Hingga akhirnya, sesaat setelah aku merilis tulisan tentang Pepeng, pemilik Klinik Kopi yang terkenal itu, seseorang me-mention tulisan tersebut di lini masa Twitter dan orang itu adalah Anton Kurniawan, eks manajer Sheila on 7.
Saat itu, mendadak aku merasa semesta seolah memberi sinyal bahwa inilah orang yang harus kuwawancarai selanjutnya. Meski kini tinggal di Bandar Lampung, tapi Anton dulu menghabiskan banyak waktu di Jogja dan tak hanya itu, ada banyak hal yang telah ia lakukan bagi perkembangan musik modern di Jogja dan salah satunya melalui kiprah Sheila on 7 tentu saja.
Perkenalanku dengannya berlangsung tak menunggu waktu lama.?Begitu Anton menyaguhi ajakan wawancara, aku langsung mengirim email kepadanya dengan sebuah pertanyaan iseng-tanpa-harapan-akan-dijawab-positif, ?Berani kasih penjelasan kenapa dulu keluar dari Sheila on 7, Mas??
Ya? keluarnya Anton dari Sheila on 7 memang masih menyisakan tanda tanya besar, kenapa setelah sekian tahun lamanya, manajer yang kerap disapa sebagai ?Papa Ton? itu memutuskan keluar pada awal 2010 yang lalu.
Setahuku, belum ada satupun media yang secara resmi memuat pernyataan Anton tentang hengkangnya dia waktu itu.
Tapi aku toh tak berharap terlalu banyak Anton akan menjawab pertanyaanku hingga akhirnya kusadar anggapanku tadi keliru.
Ia membalas email dan menyaguhi untuk memberikan penjelasan di media yang kalian baca ini.?Membaca hal itu, aku tak lantas berbesar kepala. Kuanggap ini sebagai pengejawantahan pernyataan alm. Pramoedya Ananta Toer yang kerap kupinjam untuk kukemukakan bahwa setiap tulisan termasuk email akan memiliki takdirnya sendiri-sendiri.
Dalam hal ini, email yang kukirim kepada Anton bertakdir dijawab secara baik dan positif olehnya.
Jadi, kalian sudah penasaran, kan? Selamat menikmati tulisan yang karena saking panjangnya telah kuputuskan untuk kubagi dalam dua kali publikasi, sekarang dan hari kamis depan.
Awalnya dulu keluar dari Sheila on 7 kenapa?
Saya berniat keluar saat itu karena memang merasa sudah tidak nyaman.
Awalannya dimulai saat ada pertemuan antara staff management dengan para personil band tanpa sepengetahuan saya karena saya tidak diundang.
Saya baru tahu tentang pertemuan itu dari salah satu staff yang menceritakan kepada saya secara diam-diam. Selang beberapa hari kemudian, baru ada jadwal ?rapat resmi? yang digelar antara saya, staff dan para personil.
Apa isi rapat itu?
Inti dari pertemuan tersebut adalah akan ada pemotongan gaji/honor untuk seluruh staff, crew panggung dan manager, dan juga beberapa perampingan/penghematan biaya di management.
Tapi uniknya, di sisi lain, prosentase untuk honor personil band malah dijadwalkan akan mengalami peningkatan.
Berapa?
Wah, maaf saya lupa jumlahnya. Tapi kurun waktu itu job band memang sudah tak terlalu ramai lagi meski tak bisa juga dibilang sepi. Jualan album juga sudah tidak berjalan jadi yang diandalkan adalah bayaran dari panggung ke panggung saja.
Lalu?
Dari pertemuan resmi pertama tadi masih dilanjutkan lagi dengan beberapa kali pertemuan intensif selanjutnya.
Mulai dari situ saya merasakan bahwa nampaknya saya sudah tidak diperlukan lagi di band ini karena mereka (personil) memiliki aturan dan kebijakan sendiri yang saya pikir saya tidak akan mampu menjalaninya.
Nah, daripada menghambat mereka dan tidak bisa memajukan band ini, setelah sekian belas tahun saya memutuskan untuk keluar dari band.
Bagaimana reaksi para personil ketika tahu rencana itu?
Tak semua saya beri tahu sebelumnya meski ada satu personil yang saya anggap lebih netral dan bijaksana yang saya beritahu tentang rencana itu.
Siapa personil itu dan bagaimana reaksinya?
Wah, saya tak bisa menyebut nama tapi reaksinya lesu…
Lanjut!
Nah, tanggal 25 Maret 2010 sekitar pukul 2 siang, saya membuat sejarah itu! Saat itu, di depan tiga personil Sheila on 7 saya menyatakan pengunduran diri per 1 April 2010.
Anda jadi manajer Sheila on 7 cukup lama. Awalnya dulu bertemu dengan Sheila on 7 bagaimana?
Kami bertemu di kantor Radio Geronimo FM kebetulan waktu itu saya bergabung dengan G-Indie Production yang memproduksi program acara mingguan berisi lagu-lagu musisi lokal yang bermusik melalui jalur indie dan Sheila, dulu belum Sheila on 7, adalah salah satu musisi yang lagunya banyak direspon bagus lewat single ?Kita?.
Penerimaan masyarakat yang luar biasa bagusnya itu lantas menumbuhkan keinginan mereka untuk tampil lebih serius lagi. Mereka menyatakan keinginan untuk menawarkan demo-demo lagu mereka ke perusahaan rekaman major label di Jakarta.
Saya lantas menyanggupi untuk membantu mereka membuatkan proposal dan memberikan alamat serta contact person di beberapa label hingga setelah beberapa kali proses akhirnya Pak Jan N. Djuhana dari Sony Music tertarik untuk meminang Sheila.
Lalu kenapa akhirnya memutuskan untuk menjadi manajer?
Sebenarnya saya sempat ragu karena saya pikir waktu itu ingin menyelesaikan kuliah saya yang hampir beres.
Tapi pada akhirnya setelah saya pikir, saya memutuskan untuk menyanggupi tawaran mereka dengan harapan saya bisa belajar banyak dan mendalami dunia industri musik serta entertainment dan kami ingin tumbuh dan berkembang secara bersama-sama.
Dinamika mengurus Sheila on 7 itu bagaimana? Ada nggak hal yang kamu pikir harusnya ada yang bisa diraih lebih dari sekarang tapi tak bisa?
Hmmm sepertinya tidak. Kami tak pernah memasang target harus begini atau begitu tapi tau-tau album terjual 2 juta kopi? itu diluar kuasa kami.
Tapi yang pasti hampir semua masa yang kami lewati adalah masa yang menyenangkan. Pindah dari satu kota ke kota lain, bertemu fans dan orang-orang baru, semuanya dilakukan dengan senang hati dan mengalir begitu saja.
Sebagai manajer, harusnya kamu tahu apa kunci sukses Sheila on 7 bisa begitu melejit di paruh akhir 1990an padahal saat itu industri musik Indonesia juga sedang tak sepi karena ada banyak ?raksasa? seperti GIGI, Padi dan Dewa 19 juga KLa Project?
Nah, ini yang paling susah dijawab hehehe?
Sebenarnya tidak ada atau tidak pernah dibuat formula khusus untuk itu. Mungkin yang lebih pantas menjawab pertanyaan ini adalah fans serta pengamat musik. Bagi saya, mereka lebih jujur dan lebih paham.
Tapi pada intinya, prinsip saya saat itu adalah ?babat alas?. Kemanapun diundang, kami datang sejauh memungkinkan.
Momentum juga menjadi hal yang sangat berpengaruh.
Kesuksesan Sheila on 7 menggebrak Jakarta waktu itu lalu diikuti dengan banyak band lain dari Jogja. Apa yang terjadi saat itu sebenarnya dalam dunia musik Jogja?
Suksesnya Sheila memang seolah banyak memberikan motivasi pada band-band lokal dan juga menjadi ?role model? dan itu sebenarnya tak hanya di Jogja tapi juga daerah-daerah lainnya.
Sheila on 7 seolah menjadi pemecah anggapan bahwa rekaman di Jakarta dan sukses itu hanya sekadar impian atau cita-cita saja.
Setelah itu banyak band berani mencipta lagu sendiri, membikin demo dan mengirimkannya ke radio-radio lokal berlomba memutar karya-karya mereka.
Event musik dalam berbagai lingkup juga semakin sering digelar berbarengan dengan banyak promotor lokal bermunculan dan akhirnya industri kreatif berputar.
Lalu tumbuhlah komunitas musik yang juga banyak memberikan dampak positif sebagai tempat untuk ajang bertukar pikiran, dan sharing ilmu antar musisi, ataupun memberikan support antar band saat mereka manggung.
Hal ini disambut positif dari pihak major label di Jakarta.
Kalau sebelum Sheila on 7, para eksekutif di perusahaan-perusahaan rekaman hanya duduk di kantor sambil menanti demo datang, mulai saat itu juga mereka rajin ?blusukan? untuk mencari talenta-talenta baru di berbagai kota dan daerah. Mereka memburu potensi-potensi untuk diorbitkan secara nasional dan menjadi bagian dari industri.
Istilah kata, mereka mencari Sheila-sheila yang baru… (bersambung ke sini)

Tinggalkan Balasan