Rabu siang yang lengas di selatan Jakarta.
Hari itu Natal tahun 2013. Setelah mengikuti perayaan ekaristi di gerejanya Santo Stefanus di Cilandak, kami sekeluarga makan siang di sebuah pusat perbelanjaan yang megah.
Sejak dalam perjalanan kami telah mendiskusikan tentang makan apa dan dimana, jadi ketika sampai di lobby kami langsung menuju ke sebuah restaurant berkonsep kafe di lantai dasar, pikirku biar sekalian bisa ngopi setelah makan tanpa perlu pindah tempat lagi.
Tak lama setelah memesan makanan, bau yang familier tiba-tiba merebak ke permukaan, terhirup hidung, ?Ah, dede? pup kayaknya!? ujarku pada istri, dede? merefer ke Elodia, anak keduaku.
Dugaanku tepat.
Aku langsung menggendong dia, berbekal pampers dan tissue basah, naik ke lantai dua menuju ke nursery room atau kalau di Australia biasa disebut sebagai changing room.
Awalnya agak kesulitan mencari di mana letaknya karena minimnya petunjuk (atau mungkin sebenarnya ada tapi tenggelam oleh papan iklan milik tenant yang berjualan di sana), tapi setelah tanya sana-sini, akhirnya aku menemukan sebuah gang kecil dengan papan petunjuk bergambar ikon seorang ibu yang sedang mengganti popok anaknya, aku lega, ?Ini tempatnya!?
Kubuka pintu dan ruangan yang hanya berukuran 2×3 meter itu hanya berisi sebuah rocking chair (kursi goyang) tempat ibu menyusui serta sebuah kursi lipat kumal yang entah apa fungsinya.
Aku mengamati isi ruangan hingga beberapa kali dan tak menemukan changing table di sana. Jadi aku harus meletakkan Elodia dimana? gumamku.
O?well! Apa boleh buat, skenario ?darurat? harus dilakukan.
Aku duduk di kursi kumal itu tadi, menaruh tissue basah dan pampers di bawah, Elodia kuletakkan di rocking chair yang panjangnya tak lebih panjang dari tubuhnya sehingga kedua kakinya harus kupegang supaya tak merosot jatuh ke bawah.
Untuk menahan supaya rocking chair tidak bergoyang sementara waktu, aku menahannya dengan kaki kananku.
Kurang dari dua menit, set-set-set, selesai sudah tugas negara itu! Tapi pertanyaan selanjutnya adalah kemana aku harus membuang pampers kotor ini?
Ada sebuah tempat sampah di sudut ruangan, tapi itu tempat sampah umum, padahal yang kuperlukan adalah tempat sampah khusus pampers kotor yang biasanya disediakan di changing room di Australia karena kalau pampers kotor kubuang di tempat sampah biasa yang tak kedap bau tentu hal ini membahayakan ibu dan bayi yang akan menggunakan nursery room ini untuk menyusui.
Ide cemerlang hinggap di kepala.
Aku keluar dari ruangan dan menuju ke toilet pria. Kubuang saja pampers kotor itu di sana dengan pemikiran tempat sampah toilet pria ini pasti cepat penuh sehingga pasti punya jadwal dibersihkan lebih sering ketimbang changing room tadi.
…kurang nyaman dan lengkapnya changing room adalah sebuah anomali.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu semua.
Bagiku, di tengah pesatnya pembangunan mall-mall megah, kurang nyaman dan lengkapnya changing room adalah sebuah anomali.
Aku pernah menulis di artikel lama di sini bahwa kondisi mall di Sydney kalah jauh dibandingkan dengan mall-mall di Jakarta ditinjau dari sisi gedung dan barang-barang yang dijual di sana. Tapi, sayang seribu sayang harus kukatakan bahwa kondisi changing room di mall-mall di Sydney jauh lebih bagus berkali-kali lipat ketimbang apa yang ada di mall-mall di Jakarta.
Padahal apalah susahnya membangun sebuah changing room yang nyaman untuk sebuah mall yang megah?
Uang jelas bukan kendala bagi pihak developer maupun pemilik gedung karena praktis yang diperlukan untuk membuat ruangan itu lebih parents dan kids friendly hanyalah membeli sebuah changing table portable yang bisa dilipat ke dinding, sebuah wastafel dan tempat sampah khusus pampers yang didesain khusus untuk terlindungi sehingga lebih kedap bau.
Tapi barangkali masalahnya memang bukan di situ.
Mungkin karena masih senewen dikira nanny seperti kutulis di tulisan sebelumnya, kali itu aku berpikir bahwa bisa jadi kealpaan developer untuk menyediakan sebuah changing room yang nyaman adalah karena stereotipe bahwa yang mengurusi ganti pampers adalah baby sitter/nanny, bukan orang tua!
?Loh apa hubungannya, Hon?? tanya istriku setelah kukembali ke restaurant.
?Setidaknya pemilik mall jadi berpikir bahwa anak-anak itu urusan baby sitter! Jadi, ketika papa dan mamanya makan dengan nyaman, kalau anaknya pup itu urusan baby sitter, bukan urusanku sebagai Papa yang harus menggantinya sendiri!? jawabku.
?Lalu??
?Nah, baby sitter kan nggak perlu diperhatikan apakah ia nyaman atau tidak dalam mengganti pampers anak majikannya karena kenyamanannya telah ditukar dengan gaji yang dibayar tepat waktu, hari libur yang telah direncanakan dengan baik untuk mudik serta makan yang kenyang ketika ia mulai merasa lapar. As simple as that!?
?Hmmm??
?Beda dengan kita. Kita orang tua anak kita sendiri, kita harus menikmati setiap proses interaksi dengan anak termasuk ketika mengganti popok. Nah, kalau changing rooom tak layak, bagaimana kita bisa nyaman??
?Trus??
?Nah, bayangkan kalau setiap orang tua di Jakarta ini nggak pake baby sitter dan harus mengganti popok sendiri. Mereka akan berpikir berulang kali untuk masuk ke mall yang changing roomnya tak nyaman seperti ini dan memilih mencari mall yang lainnya dan akhirnya, pihak management harus berintrospeksi dan berpikir kenapa jumlah kunjungan keluarga menurun, oh ternyata karena changing room nya tak nyaman!?
Karena customernya nggak protes karena mereka tidak mengganti popok anaknya sendiri maka pihak management mall juga cuek aja!
?Ini cuma soal customer experince! Karena customernya nggak protes karena mereka tidak mengganti popok anaknya sendiri maka pihak management mall juga cuek aja!?
Tiba-tiba aku merasa telah berpikir dan bicara terlalu banyak. Makanan di piring istriku telah hampir habis sementara aku masih harus mengejar waktu untuk menghabiskannya secepatnya demi secangkir kopi hangat nikmat untuk menyambut sore hari itu.
Sore itu aku rindu Australia…
Tinggalkan Balasan