Semua berawal dari nama dan benda yang ditunjuk oleh nama itu.
Anjing. An-jing. Awalnya hanyalah sebutan untuk binatang. Mereka hidup mengembara di alam bebas hingga konon sejak 12 ribu tahun silam manusia jatuh hati lalu membawanya ke rumah , dijadikannya sebagai piaraan, kesayangan maupun menjalankan fungsi-fungsi lainnya yang disematkan kepadanya.
Suatu waktu, seseorang patah hati terhadapnya. Dalam ilustrasi pikiranku, barangkali orang itu awalnya suka, tapi gara-gara ia menggoda di saat yang tak tepat, si anjing marah lalu menggigit betisnya hingga berdarah. Saking kaget dan sakitnya, ia pun sontak berteriak, “Anjing!” Sejak saat itu ia selalu berteriak, “Anjing!” kepada siapapun yang menyerang atau mereka dan apapun itu yang membuat marah tak peduli apakah mereka atau sesuatu itu anjing betulan atau bukan. Uniknya, hal itu lantas diikuti oleh banyak orang, hingga sekarang.
“…sadarkah kita bahwa agama tercipta pada satu masa dimana tak semua hal yang muncul sekarang sudah ada saat itu…”
Sapaan untuk hewan tersayang akhirnya menjadi umpatan yang mendatangkan sakit hati untuk orang yang dikenai dan konstruksi moral masyarakat lambat laun mengkotakkan kata ‘anjing’ sebagai umpatan adalah sesuatu yang tak elok untuk diucapkan.
Soal jari tengah itu lain lagi.
Apa salah jari tengah dibanding jari lainnya mungkin hanya surga yang tahu. Hingga akhirnya muncul beberapa versi sebab kenapa orang masa kini (terutama yang hidup di sini) sangat sensitif ketika diacungi jari tengah. Tapi dari sekian banyak versi, aku tertarik untuk mencomot satu, milik bangsa Yunani kuno. Dalam peradaban bangsa itu, jari tengah disebut sebagai katapugon; menusukkan jari tengah ke lubang anus untuk mendapatkan sensasi seks yang berbeda dari biasanya. Lalu semakin kemari, dengan fungsi yang sama (menusuk), tak hanya penetrasi anal namun juga penetrasi ke liang senggama ya menggunakan jari tengah tersebut.
Maka sejak saat itu, orang seperti kehabisan daya untuk tersenyum dan gembira ketika orang lain mengacungkan jari tengah ke mukanya karena membayangkan dan tahu untuk apa sebenarnya jari tengah itu ditujukan. Mudah ditebak sesudahnya, jari tengah menemani ungkapan ‘anjing’ sebagai sesuatu yang ‘tak elok’ untuk ditunjukkan pada orang lain
*? *? *
Dua contoh di atas, anjing dan jari tengah kusajikan sebagai ilustrasi untuk menyampaikan opiniku bahwa kehidupan ini berdinamika dan kita butuh tanggap terhadap gerakannya. Tak ada yang statis dalam kehidupan ini, bahkan sesuatu yang semula bermakna tunggal dan baik, karena satu kejadian kecil menjadikan ia memiliki dua arti yang tak semuanya baik. Sesuatu yang awalnya tak ada, tiba-tiba muncul dan orang pun bertanya-tanya, apakah itu baik atau tidak?
Masyarakat tradisional yang terlalu manja untuk menjawab pertanyaan tersebut menggunakan akal budinya lalu memilih agama untuk menjawab karena hanya itu yang ia rasa ia punyai. Mereka berharap kitab-kitab suci secara aktif memberi jawaban kepada mereka, para pemalas itu.
Masyarakat modern akan memilih untuk menggunakan akal budi dengan tetap menggunakan dasar moralitas dan religiositas dari agama yang dianutnya secara hati-hati namun penuh keyakinan.
Lalu pertanyaannya, mana yang lebih benar dalam mengupayakan cara terbaik untuk mencari jawaban itu? Golongan tradisional kah? Modern kah?
Terlepas dari benar-salahnya, sadarkah kita bahwa agama tercipta pada satu masa dimana tak semua hal yang muncul sekarang sudah ada saat itu sehingga mudah ditebak, hal-hal yang muncul belakangan tak kan tertulis secara eksplisit dalam kitab-kitab pendukungnya?
Seperti seseorang yang beberapa waktu silam kuajak berdiskusi tentang satu profesi yang kutanyakan ‘keabsahannya’ menurut dia. Semula aku tak mengharapkan diskusi itu dibawa ke dalam ranah ‘tradisional’ karena kupikir ia cukup modern.
“Eh jadi menurutmu profesi A itu salah atau tidak?” tanyaku.
“Tidak!” jawabnya.
“Kenapa?”
“Karena hal itu tidak tertulis dalam kitab!”
Diskusi lantas kuhentikan di situ. Bagiku, hal itu bukannya tak menarik lagi, tapi kalau kulanjutkan takutnya akan menciderai persepsiku terhadap agama itu sendiri dan lantas menganggap agama sebagai sebuah konstruksi purba nan gagu menghadapi jaman yang begitu pesat larinya ini. Lagipula. taruhlah jawaban temanku itu benar bahwa profesi A dihalalkan karena tak tertulis di kitab, lalu bagaimana dengan persepsi tentang anjing dan jari tengah yang kujabarkan di atas itu tadi?
Bagaimana pula pembajakan karya cipta, teroris, hacking.. apakah kita akan baik-baik saja jika kita melakukannya semata karena ia tak ditulis secara eksplisit oleh kitab-kitab nan suci itu jauh sebelum kata-kata itu menemui maknanya yang terkini?
Atau akankah kita akhirnya mencari-cari alasan dengan bilang “Sudah tertulis tapi dengan istilah lain!” Kalau demikian, kenapa profesi A juga tak dimungkinkan sebagai ‘hal yang ditulis tapi dengan istilah lain’ juga?
Touche!? Tulis Umar Kayam setiap Pak Ageng (dirinya) kena sekak Mr. Rigen, pembantunya itu…
Tinggalkan Balasan