Ada pelajaran yang cukup menarik yang kudapat hari itu, Selasa, 11 November 2008.
Dulu, aku memiliki ritual yang unik. Setiap pagi, aku tak pernah bisa mandi dengan nyaman kalau belum buang air besar (BAB), dan BAB yang belum tuntas sangatlah menyebalkan! Moodku bisa rusak seharian karena rasa tak enak pada perut dan akhir-akhirnya buang gas jadi semena-mena terjadi sepanjang hari itu!
Akibatnya, waktu untuk persiapan mandi hingga selesai mandi sangatlah lama. Rata-rata aku menghabiskan hampir satu jam untuk BAB plus mandinya. Sungguh, seperduapuluhempat waktuku hari itu sejak pagi telah terokupansi di dalam kamar mandi!
Tapi sekarang, di sini, di Australia ini, dimana hidup berputar tampak lebih cepat dari yang tercepat yang pernah kurasakan sebelumnya, tantanganku salah satunya adalah mengalahkan ritual buruk itu.
Awalnya sungguh tak mudah!
Merancang maksimal spare waktu hanya 10 menit BAB di pagi hari dan sekali dalam sehari itu plus 10 menit mandi pagi, atau bahkan pada saat waktu yang lebih mepet lagi aku harus men-skip BAB ku dan memindahkannya ke sore ataupun malam hari, wah benar-benar suatu perjuangan yang menantang dan cukup sulit.
Tapi kembali kusadari, kalau hidup itu hanya untuk mencari kata “mudah” saja barangkali saat ini aku tidak ada di Sydney ini. Lebih baik bagiku untuk kembali ke Jogja saja melanjutkan apa yang telah kuraih lengkap dengan segala apa yang melekat pada diriku termasuk ritualku itu tadi, bukan ?
Dan, belajar dari bagaimana aku bisa berhenti merokok secara total tiga tahun lalu, untuk urusan ritual pagi ini akupun memilih untuk radikal terhadap diriku sendiri. Stop hari itu juga tanpa ada adjustment maupun pengurangan bertahap!
Rasanya memang nggak enak.
Mandi tanpa BAB di pagi hari seperti makan tanpa minum sesudahnya, seperti ada yang mengganjal di “maaf” pantat kemudian menjalar hingga ke perut, berputar-putar di sana sesiangan lalu menjelang sore mulai berbuah gas secara semena-mena.. dut… dut… dut….
Dan itu kumulai hari ini tadi :)
Selepas mandi tanpa BAB itu aku lantas bergegas menuju ruang komputer lagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai kemarin. “Undangan” untuk BAB kadang bergegas datang, pergi lalu datang lagi tapi terus kukeraskan hati bahwa BAB sejak saat itu sudah kupindahkan jadwalnya di malam hari, dan lama kelamaan tubuh ini akhirnya menurut juga :)
Pukul 1 siang, setelah makan siang aku lantas menyiapkan dan menata berkas yang hendak kubawa ke kantor Imigrasi Parramatta. Dengan mengendarai bis 601 kesayanganku, akupun mencapai kantor imigrasi sekitar pukul setengah dua siang. Waktu itu matahari sedang sadis-sadisnya membakar Sydney. Suhu yang dirasakan akibat sengatannya bahkan sudah semakin mendekat ke angka 40 derajat di SUUNTO yang kukenakan di tangan kiriku.
Tiga puluh menit perjalanan, lalu sampailah aku di kantor imigrasi di Parramatta.
Suasana kantor imigrasi siang itu cukup lengang. Tak terlalu banyak orang yang mengantri namun sayangnya beberapa pegawai kantor itupun juga tak tampak berada di belakang meja. Sebagian ada yang makan dan sebagian lagi, katanya, ada yang sedang meeting di tempat lain.
Setelah mengambil tiket, akupun duduk dan menunggu giliran tiba.
Sejenak kulemparkan pandang ke seantero ruangan dan betapa kulihat ruangan itu sangat multi ras. Asia yang paling mendominasi. Beberapa kulihat seperti tampak dari India dan beberapa lainnya dari Timur Tengah, Philipina, Vietnam, China dan tentu saja Indonesia. Mereka kebanyakan datang berbarengan dengan keluarga meski ada pula yang sendirian seperti aku.
Setengah jam lebih lamanya aku menunggu antrian atau lebih tepatnya menunggu pegawai kantor itu datang setelah pergi.
Berurusan dengan imigrasi yang biasanya terkesan menyeramkan, hari itu telah diubahNya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tak seperti hari-hari kemarin, kali ini aku berhadapan dengan seorang ibu setengah baya, mungkin seusia dengan Mamaku. Tampaknya ia seorang Philipino, tampak dari namanya, kulit dan form wajahnya serta … aha, sebuah poster penuh dengan gambar Bunda Maria dan Yesus Kristus pada sebuah sisi mejanya.
Lima belas menit sesudah itu, aku telah selesai mengurus semuanya. Kini aku adalah pemegang Bridging Visa sembari menanti Spouse Visa application-ku disetujui oleh DIAC, Departement Imigrasi and Citizenship Australia.
Pukul 2.30 pm aku beranjak pergi dari kantor Imigrasi dan bergegas menuju Hassall St untuk mencari kantor AMES, sebuah program pelatihan Bahasa Inggris bebas biaya untuk para imigran.
Adapun Hassall St, aku sungguh tak tahu dimana letaknya berada.
Dua kali sempat kutanyakan pada orang yang lewat di sekitar kantor Imigrasi, tetapi keduanya menjawab tidak tahu dan hanya bilang “pernah mendengar”.
Atas alasan kurangnya referensi dan lupa melihat peta (serta lupa menyadari bahwa digenggamanku sekarang ada Blackberry yang bisa membuka GoogleMap lebih leluasa ketimbang mobile biasa) aku memutuskan untuk menunda pencarianku dan memilih berjalan cepat ke Westfield untuk bertemu William Pramana yang telah menanti untuk menikmati secangkir kopi bersama di sore itu.
Tak susah untuk mencari William di tempat yang sudah semakin familiar keberadaannya itu.
Setelah bertemu kami lantas menuju ke Gloria Jeans yang ada di lantai 3.
Lalu sesuatu yang menjadi “momen” hari itu pun terjadi!
Ketika sedang menaiki eskalator menuju ke lantai 3,
tiba-tiba dari arah yang berlawanan aku mengenali sosok manusia Asia yang tak lain adalah teman seangkatanku ketika ada di SMA De Britto Yogyakarta dulu. Bertemu dengan orang yang sudah lama kita kenal di tempat “asing” seperti ini tentu adalah saat dimana terjadi luapan gembira yang luar biasa, bukan?
Seperti bertemu dengan sesama anjing di kandang domba, atau menyapa sesama gorilla di kandang kepompong!
Sangat menggembirakan dan pastinya mengharukan bukan?
Tapi ternyata itu semua hanyalah ilusi dan ada dalam cerita-cerita serta film.
Yang kutemui adalah sebaliknya!
Begini kisahnya…
“Loh… kamu?
Kok di sini?” ungkapku kaget sambil tersenyum lebar padanya yang bergandengan seorang wanita asia bermata sipit, sesipit dia.
“Iya… aku udah PR di sini!” sahutnya datar kepadaku seperti tak pernah terjadi apa-apa padaku.
Eskalator terus berlalu, ia berpapasan denganku, turun ke bawah sementara aku di atas.
Damn! Aneh bukan ?
Jika aku jadi dia, tentu akan kusimpan kata-kata “PR” itu karena sangat tidak relevan.
Dimana letak relevansi “Aku udah PR di sini” dengan ketakjubanku memandangnya sebagai teman lama yang mungkin bisa kutanya nomer telp nya dan kapan-kapan entah waktu kapan kita mengadakan dinner bersama lengkap dengan istri masing-masing.
Tentu akan sangat membahagiakan jika ia membalas ucapanku dengan “Eh iya.. Donny kan? Kamu di sini juga?”
atau sesuatu yang lebih nyablak khas De Britto “Hey Su! Biajingan… ngopo kowe nang kene?”
Oh, dimana perginya kata-kata itu?
Sudah sedemikian desperate-nya kah dia dan terlanjur menjadi sok was-was terhadap teman lama yang mungkin menurutnya aku adalah pendatang gelap yang akan meminta-minta makan dan tumpangan inapan di rumahnya?
Anjiii… eh kepiting! Ya, dia emang benar-benar kepiting!
Anyway, “kejanggalan” teman lama yang sepertinya sudah kustop saja dari perbendaharaan teman itu menjadi topik bahasan yang cukup hangat antaraku dengan William.
Kami berdua menyeruput kopi di Gloria Jeans sampai setengah jam lalu sebelum pulang kami mampir sebentar ke JB HiFi untuk sekedar window shopping mengamati barang-barang elektronik dan computer pheriperal yang menggiurkan hati itu.
Pukul 04.00 pm, aku berpisah dengan William. Dia ada agenda pergi ke rumah teman sementara aku harus secepatnya menyentuh rumah sebelum pukul 05.00 pm, sebelum pengantar catering tiba karena hari itu aku hendak membayar catering untuk minggu yang sedang berjalan.
Di tengah jalan kembali aku terbayang dengan peristiwa pertemuan tak disangka dengan “teman” itu tadi.
Aku hanya tersenyum-senyum sendiri membayangkan semuanya melintas kembali di kepala.
Bayangan jawaban yang “nggak nyambung” dengan ketakjubanku tadi melahirkan banyak gelengan kepala sepanjang perjalanan tadi.
Aku merasa seperti bersalaman tapi tak disodori tangan tapi ya sudahlah, itulah kehidupan.
Persetan dengan ke-debritto-an yang sering diagung-agungkan itu, tampaknya roda jaman telah menggilasnya menjadi sosok yang sangat aneh.. setidaknya bagiku, orang yang juga sering dicap aneh ini :)
Skali lagi, Anji.. eh.. kepiting! :)

Bayar Parkir di sini adalah hal baru bagiku dan menyenangkan untuk diamati.
Parkirkan mobilmu di tempat yang telah ditandai, BACA.. ya BACA berapa jam maksimal waktu yang diperbolehkan untukmu memarkirkan kendaraan. Kalau sudah, beli tiket di tempat yang telah disediakan, bisa pakai kartu kredit ataupun koin. Tentukan berapa lama kamu akan parkir disitu, lalu setelah print out kertas kamu terima dari mesin itu, letakkan di kaca mobil lalu pergilah.
Tapi ingat, jangan parkir melebihi batas waktu yang telah dibeli atau ranger yang lewat akan mencatat nomermu, melaporkannya pada RTA lalu slip tagihan denda akan dilayangkan di rumahmu! (menulis dengan geram karena belum apa-apa udah jadi korban lupa parkir kelamaan huahuahuahua!)

Pemandangan stasiun Redfern dari atas kereta Parramatta – TownHall

Ass-Pret!
Assaaalll Jepret hehehe
Tinggalkan Balasan