Andai saja ada tuhan lain yang lebih baik daripada Yesus?

6 Mei 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 6 Mei 2017

Yohanes 6;58 – 69
Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”

Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?

Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?

Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.

Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Renungan

Banyak dari murid meninggalkan Yesus setelah mereka sadar bahwa perkataanNya tentang ketentuan untuk makan tubuh dan minum darahNya, tentang hakikat persatuanNya dengan Bapa dan tentang roti hidup adalah perkataan-perkataan yang keras dan “Siapa sanggup mendengarkanNya?” demikian tukas mereka.

Adakah kita juga menemui bahwa perkataan-perkataanNya itu keras dalam hidup kita sekarang ini?

Beberapa hari yang lalu di sebuah grup percakapan di WhatsApp, kami membahas tentang hal-hal yang dianggap kolot dalam perspektif Gereja Katolik.

Ada kawan berseloroh, “Kalau ngaku Katolik, kita ini harusnya nggak boleh pakai alat kontrasepsi termasuk kondom dalam berhubungan intim! Dilarang!”

Benarkah kondom dan alat kontrasepsi itu dilarang?

Ya! Dalam Gereja Katolik kontrasepsi, seperti diungkap Santo Tertulianus (tahun 197 masehi) dalam tulisannya bertajuk ‘Apologeticum‘ mengatakan, ?mencegah kelahiran adalah melakukan pembunuhan; tidak banyak bedanya apakah orang membinasakan kehidupan yang telah dilahirkan ataupun melakukannya dalam tahap yang lebih awal. Ia yang bakal manusia adalah manusia.?

Tapi kalau kontrasepsi dilarang, bagaimana kita mengerem laju pertumbuhan penduduk, Don?

Kalau kontrasepsi dilarang, anak kita bisa banyak banget dong! Memang ada sistem KB alami, tapi berarti kita harus tahan nafsu dong? Kalau kita lagi nafsu trus belum sampai ‘tanggal yang pas’ berarti harus ditahan nggak ngeseks dulu? Bukankah Tuhan juga mau kita ini berbahagia?

Dan masih banyak pandangan-pandangan keberatan lain termasuk pandangan yang menyebut bahwa kondom adalah sarana menghindari HIV/AIDS (Sesuatu yang menurutku kurang pada tempatnya karena kalau mau yang pas, solusi menghindari HIV/AIDS salah satunya ya menghindari kegiatan ngeseks gonta-ganti pasangan bukannya melindungi kegiatan itu dengan kondom!)

Untuk itu, banyak dan sepertinya makin banyak orang memandang Gereja Katolik adalah sebuah institusi kolot yang tak peka jaman serta keras. Alhasil, seperti ditulis Yohanes hari ini, banyak yang meninggalkanNya.

Lalu kenapa kita juga tak ikut-ikut meninggalkanNya? Tak takut dibilang kolot? Tak takut dibilang tak peka pada jaman? Atau jangan-jangan kita memang telah menerima perkataan-perkataanNya dan menganggap semua itu tak keras sama sekali!?

Aku merenungi dan mencoba berada di posisi Petrus. Seperti ditukas Yohanes dalam Kabar Baik hari ini, aku tak yakin bahwa alasan Petrus untuk tetap bersamaNya adalah karena baginya kata-kata Yesus itu tak keras! Petrus pun pasti juga merasakan betapa keras kata-kataNya! Ia tetap bertahan karena merasa tak punya tempat lain lagi untuk mencapai hidup kekal! “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?”

Jadi? Mari bersikap seperti Petrus!
Terus berusaha dan terus setia serta percaya! Ketika kita berhasil mengikuti apa yang dituturkanNya, bersyukurlah! Ketika kita merasa gawal, gagal, jatuh… bangunlah! Gagal itu wajar! Tapi gagal yang tak mau bangun lagi adalah sebuah nestapa!

Tatap dan peluklah erat Ia yang kepadaNya Allah Bapa berkenan. Kita tak punya pilihan lain yang lebih baik, Kawan! Bukan karena kita tak memberi waktu kepada diri sendiri untuk mencari yang lebih baik lagi tapi karena yang ada di hadapan kita, yang memeluk kita sehari-hari adalah Sosok Pilihan yang sudah paling baik, Yesus Kristus!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.