Andai De Britto menerima murid wanita?

15 Jan 2018 | Cetusan

Baru saja kudengar kabar, ada sebuah sekolah di Jogja yang selama ini dikenal sebagai sekolah homogen namun tahun depan, 2019, akan jadi heterogen, menerima murid baik pria maupun wanita.

Beberapa alumni dikabarkan shock menerima kabar itu. Aku tak menyalahkan. Justru aku mencoba mengerti bagaimana perasaannya. Lalu tiba-tiba aku berpikir tentang SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Bukankah perubahan dari homogen ke heterogen juga bisa saja terjadi pada sekolah yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta itu?

Kenapa tidak?
Jangankan mengubah profil murid dari cowok semua ke campur, pindah kampus saja mungkin kok kalau lahannya dijual? Jangankan pindah kampus, sekolahnya ditutup pun juga bukannya sesuatu yang mustahil, kan?

Kalau De Britto pada akhirnya menerima murid wanita, hal yang akan kulakukan adalah mendukung apapun keputusan manajemen dan yayasan.

Kenapa?
Apa yang pantas dan bisa kulakukan selain mendukung?

Melawan?
Aku bukan kepala sekolah, bukan romo pamong, bukan pula presiden!

Urusanku sebagai mantan siswa dengan almamater sejatinya telah selesai ketika aku tak lagi bersekolah di sana. Hakku sebagai alumni pun telah terpenuhi dengan terbitnya legalisasi bahwa aku memang pernah sekolah di sana.?Selainnya itu hanya kenangan saja. Tak kurang dan tak lebih?

Jadi kalau De Britto membuat kebijakan lalu aku merasa tak setuju, rasanya aku akan buang-buang tenaga saja. Lebih baik digunakan untuk mengerjakan yang lain toh hidup ini bergerak maju, tak berhenti hanya di masa SMA saja?

Mungkin kita berpikir kalau jadi heterogen, dimana letak keunikan De Britto? Keunikan sebaiknya jangan diukur dari yang tampak saja. Letak keunikan De Britto ada pada bagaimana visi pendidikan ala ignasian/jesuit tertanam dalam diri para muridnya.

Jadi, kalaupun De Britto menerima murid wanita, kalaupun De Britto pindah kampus dan kalaupun De Britto bubar jalan, keunikan itu ada pada diri kita dan bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai yang pernah diajarkan ke dalam hidup sehari-hari.

Saatnya untuk meneliti diri karena takutnya meski kita pernah sekolah di De Britto jangan-jangan sebenarnya tak ada yang unik dalam diri kita? Jangan-jangan kita ini biasa saja atau malah lebih buruk dari siswa sekolah lainnya yang kita cap sebagai ?sekolah biasa saja??

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.