Andai bukan Jokowi yang mengucapkan kata ?berantem??.

7 Agu 2018 | Cetusan

Di depan para relawannya, Sabtu 4 Agustus 2018 silam, Pak Jokowi menyampaikan pidato yang lantas jadi pergunjingan terkait dengan pilihan kata yang ia ucapkan, ?berantem?.

Aku sarankan kalian untuk membaca isi pidato lengkapnya di link bawah ini. Di tulisan ini aku hanya akan mengemukakan penggalannya saja sebagai berikut,

Nanti apabila masuk ke tahap kampanye, lakukan kampanye yang simpatik, tunjukkan diri kita adalah relawan yang bersahabat dengan semua golongan, jangan membangun permusuhan. Sekali lagi, jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian. Jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela. Tidak usah suka menjelekkan orang lain, tapi kalau diajak berantem juga berani.

Lalu setelah sorakan para relawan, ia melanjutkan,

Tapi jangan ngajak lho. Saya bilang tadi, saya bilang tadi tolong tadi, tolong digarisbawahi, jangan ngajak. Kalau diajak?

Apa yang salah dengan kata ?berantem? kecuali bahwa kata itu lantas dipelintir oleh mereka yang selama ini dan sepertinya akan berseberangan dengan Pak Jokowi?

?Berantem? dalam konteks di atas toh menjadi reaksi, hal itu ditunjukkan dalam frase? ?kalau diajak berantem juga berani.?

?Berantem? juga tak bisa dipisahkan dari hal-hal yang tertulis di atasnya. Artinya jika tak ada orang yang menyebarkan ujaran-ujaran kebencian, tak ada orang yang membangun fitnah alias hoax, tak ada orang yang suka mencela dan menjelek-jelekkan orang lain ya tidak ada ?antem-anteman?.

Lagipula, jika kita mau sadar, sebagai orang baik, setiap hari kita ini berantem, berantem dengan ketidakbaikan.

Bangun pagi, kita berantem dengan rasa malas yang membujuk kita untuk meneruskan tidur.

Di jalan ada sosok menarik hati, kita berantem dengan perasaan karena ingat anak-bini di rumah.

Dalam hidup berbangsa dan bernegara, kita juga berantem dengan bahaya korupsi, narkoba dan lain-lain?

Jadi, kepada pihak ?seberang? alangkah baiknya kalem saja. Toh kalian tidak akan menyebarkan ujaran-ujaran kebencian, tidak akan membangun fitnah alias hoax, tak suka mencela dan menjelek-jelekkan orang lain dan tak pula menantang berantem sehingga dengan demikian ?antem-anteman? tak kan terjadi.

Kecuali kalau amunisi untuk menyerang incumbent sudah semakin berkurang, pilihan kata ?berantem? yang terlontar pun selayaknya jadi durian runtuh yang tampak menguntungkan?

Transkrip pidato Pak Jokowi selengkapnya bisa dibaca di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.