Andai arkeolog menemukan jasad Yesus tak bangkit, masih percayakah kita kepadaNya?

3 Jan 2018 | Kabar Baik

Bagaimana sebuah kepercayaan dibangun dan dipelihara? Dari sebuah pernyataan awal yang lantas diimani dan dinyatakan secara terus-menerus!

Aku percaya diriku tampan.
Kepercayaan itu datang karena aku menyatakannya. Dari situ aku berusaha merawat kulit wajah, memperbaiki penampilan menyesuaikan dengan umur sehingga apa yang kuimani bahwa diri ini tampan kian hari kian nyata.

Bayangkan kalau aku percaya tapi tak berusaha menyatakan secara terus-menerus. Misalnya tak memperhatikan kulit wajah, tak memilih baju-baju dan dandanan yang sesuai? Yang kukhawatirkan, ketika melongok ke cermin, aku merasa diri tak tampan lagi. Nah, kalau aku sendiri tak percaya, bagaimana aku berharap orang lain bilang bahwa aku ini tampan?

Kepercayaanku terhadap Yesus Kristus pun demikian. Ada yang menyatakan lalu aku mengimani dan ikut menyatakan kepercayaan itu, secara terus-menerus.

Kabar Baik yang ditulis Yohanes hari ini menyatakan bagaimana seorang Yohanes Pembaptis yang semula dikira orang-orang sebagai mesias menyatakan Yesus sebagai mesias itu sendiri.

Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” (Yohanes 1:29 – 31)

Bahkan di akhir pernyataannya, seperti ditulis Yohanes (Yohanes 1:34), ia menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya ketika anak Elizabeth dan Zakharia itu berkata demikian! Barangkali ada yang mengerutkan dahi, ada yang tak percaya meski kuyakin juga ada yang mengangguk-angguk tanda setuju. Tapi Yohanes tak bergeming. Ia kukuh mempertahankan kepercayaannya itu hingga mati dipenggal kepalanya oleh Herodes beberapa waktu kemudian.

Majalah National Geographic edisi bulan Desember 2017 silam mengangkat judul yang cukup kontroversial, What Archaeology Is Telling Us About the Real Jesus.

Kalau dekade lalu kita digoncang dengan fiksi karya Dan Brown bertajuk The Da Vinci Code yang menceritakan tentang Yesus menurut versinya, dekade ini ?pembuktian? dari jalur ilmiah yang arkeologis siap menggoncang dan mengoyak iman serta percaya kita kepadaNya.

Sejak tempat yang diyakini sebagai makam Yesus di Yerusalem dibuka akhir tahun 2016 silam, tak hanya pengunjung yang mengimaniNya yang berjubel tapi arkeolog mulai mengarahkan penelitian demi penelitian untuk mencari tahu siapakah Yesus itu sebenarnya dan bagaimana ceritaNya sesungguhnya.

Tak lama setelah membaca majalah itu, iseng aku bertanya pada kawan diskusi melalui WhatsApp,??Kalau ternyata arkeolog itu menemukan jasad Yesus ada di makam yang berarti bahwa Ia tidak bangkit sesuai yang diungkapkan Injil, gimana reaksimu??

Ada yang menjawab, ?Aku lega karena aku jadi bisa bebas berbuat dosa!? Yang lain bicara, ?Aku menyesal sudah percaya sekian lama!? Tapi ada yang agak ?kocak? juga berseru, ?Aku menyesal! Kalau tahu begitu keadaannya, aku tentu tidak menolak ketika diminta oleh mantan pacarku untuk pindah agama! Huh!?

Aku tak bisa menyalahkan pendapat mereka terlepas itu semua adalah guyonan atau cerminan iman mereka sebenarnya. Sama seperti halnya aku tak berhak memprotes Dan Brown dengan Davinci Code nya, ataupun para arkeolog dengan karya ilmiah yang nantinya akan berbicara siapa Yesus sebenarnya.

Kepercayaan itu pilihan yang harus dihormati meski tak harus kita yakini. Ketika aku percaya Yesus sebagai Anak Allah, aku juga harus terbuka dan menghormati ketika seorang lain menyatakan bahwa baginya Yesus bukan siapa-siapa.

Justru ketika nanti ada arkeolog atau siapapun seribu topan badai yang menyatakan siapakah Yesus sebenarnya, bagiku itu tak lebih dari cara mereka mengungkapkan cinta kepadaNya. Perkara Ia berkenan atau tidak, ya lagi-lagi itu bukan urusanku karena itu kuasaNya.

Yang lebih penting selanjutnya adalah bagaimana kepercayaan itu mampu mengubah hidup kita. Bagaimana hidup ini jadi lebih berguna bagi diri sendiri dan sesama, lingkungan juga dunia.

Kalau begitu, masih berani untuk tetap percaya?

Sydney, 3 Januari 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Seluruh nubuatan di dalam Perjanjian Lama harus digenapi. Kalau tidak tergenapkan, maka Allah adalah Allah orang mati. Yesus adalah kegenapan dari seluruh nubuat yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Kalau Yesus bukan Tuhan, Vatican tidak akan mampu bertahan dalam kurun waktu 2000 tahun lebih. Catholicism pasti sudah hancur berantakan. Demikian juga ke Islam-an, karena di dalam Koran dinyatakan secara jelas bahwa Isa Al Masih adalah Roh Allah dan Kalimatulah.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.