Kepala temanmu kah tumpuan popularitasmu saat ini?

1 Jul 2013 | Cetusan

Jogja, jumat tengah malam menjelang sabtu dinihari di warung angkringan adalah padu padan nan sedap untuk merayakan minggu yang telah berlalu dengan cara ngobrol ngalor-ngidul.

Aku dan sahabatku, pernah suatu waktu di kesempatan seperti itu, membicarakan tentang satu hal yang belum kami ketahui istilahnya waktu itu.

Kami menengarai beberapa kawan yang tiba-tiba melejit namanya, seolah ia begitu berjasa melakukan sesuatu yang begitu besar, namun dibalik semuanya itu ada sesuatu yang ‘terlalu dipaksakan dan dikorbankan?, rasanya demikian.

?Ibarat pendaki tebing, mereka itu pandai menyalip di tikungan!? tukasku.
?Hmmm…?

?Ketika seorang bersuara A dan A itu benar, sebelum jadi trend besar, orang ini menimpali dan menyuarakan A sebagai miliknya ke orang-orang sekitarnya lalu menjadikannya luar biasa gaungnya!? tambahku lagi.

?Lalu si orang yang bersuara mula-mula itu dikemanakan? Dibungkam?? tanya kawanku tadi.
?Nggak, dibiarkan tetap bersuara tapi kepalanya terinjak kakinya lalu gogrok (jatuh -jawa) dari tebing.. Bruuul!.. Dan suaranya makin tak terdengar…?

Sejak saat itu kami menamainya social climber… orang yang memanjat tebing kepopuleran berbekal pengakuan sosialnya yang didapat dengan cara apa saja.

Sejak saat itu kami menamainya social climber… orang yang memanjat tebing kepopuleran berbekal pengakuan sosialnya yang didapat dengan cara apa saja.

Waktu berlalu, aku lantas pindah ke Australia dan social media telah begitu menggema seperti sekarang ini.

Beberapa waktu yang lalu kami, aku dan sahabatku tadi ngobrol lagi. Tentu tak ditemani teh kental dan suasana Jogja dini hari. Kami bercakap-cakap melalui jendela chat dari negara kami masing-masing dan tiba-tiba teringat obrolan kami tentang social climber itu.

“Nggak tau, Bos….tapi, ngeliat gejala kek sekarang ini, aku inget tebing dan orang-orang yang memanjat yang kita bahas dulu itu…” ujarku.

“Social climber, Mas!?”
“Tepatnya demikian!”

Begitu banyak orang, kuamati, di mainstream media maupun social media berlomba-lomba menjadi pemanjat ulung, ya social climber itu.

Awalnya bukan siapa-siapa tapi berkat rajin nyemplung ke wave-wave yang sedang ramai dibicarakan, namanya kemudian terangkat sedikit demi sedikit. Sekali waktu ia berubah menjadi pencipta trending topic, menetaskan pembicaraan-pembicaraan yang hebat; pagi tentang anti minuman keras, siangnya membahas ayat suci, sore mengecam kaum homoseksual dan malam meracau film dan iklan yang dianggap amoral karena rajin pamer aurat.

Salahkah? Tidak! Topiknya topik bagus kok. Lalu? Masalahnya? Sebentar.. baca lanjutan artikel ini nanti kau akan tahu sendiri…

Modalnya hashtag dan jumlah pengikutnya.
Dipakainya celak wajah tertampan atau tercantik pada avatar, alim dan santun tutur tweetnya menutupi segala bau busuk dan niat-niat yang kadang tak terlalu lurus. Dan lini masa seolah dijadikannya sebagai jalan tol untuk melemparkan semuanya demi mendapatkan segalanya: kejayaan, kemenangan dan kepopuleran…

Ah, persis katamu, suara rakyat menenggelamkan suara Tuhan, eh?

Orang-orang yang membenci dan protes karena melihat niat yang tak sebaik apa yang dibicarakan bukan lagi jadi perkara besar karena mereka tahu jumlah yang pintar selalu lebih lebih sedikit ketimbang yang merasa hepi hanya dengan asupan-asupan kumpulan karakter kurang dari 140 jumlahnya itu. Ah, persis katamu, suara rakyat menenggelamkan suara Tuhan, eh?

“Yang penting follower naik, harga tawar untuk nge-buzz makin tinggi dan ssstttt.. siapa tau kepilih jadi caleg, Mas” bisik seorang kawanku melalui DM. Ia seorang yang setia menjadi mulut untuk telingaku.

Ada lagi cerita pilu seorang kawan lama lainnya.
Bisa kubilang ia adalah gudang ide dari segala macam ide-ide menarik untuk dikembangkan di tengah masyarakat yang sangat responsive terhadap social media seperti di Indonesia. Kelemahannya hanya satu, ia tak hidup di Jakarta, pusat segala perhatian negara ini diperhatikan.

Suatu waktu tiga tahun silam, seorang ?tinggi besar? datang ke kotanya, berburu ide; dijumpailah kawanku tadi.

Buaiannya membuat kawanku terlena. Ia, kawanku tadi, tak kuasa menyampaikan ide-idenya. ?Ah, idemu bagus juga, tapi entahlah, mungkin tak kan laku kalau dijual!? tukas pembuai itu tadi. Kawanku agak kecewa, tapi dibiarkannya ia pergi begitu saja…

Tanpa kabar tanpa berita, beberapa bulan sesudahnya, ide yang dibilang kurang tergali tadi telah menjelma sebagai trend yang bagai bola salju meringsek penjuru tanah air dan mendatangkan profit yang begitu besar. Siapa yang tampak sebagai pencetus ide? Ya si pembuai yang ?tinggi besar? tadi. Kemana kawanku yang empunya ide sebenarnya? Seperti kubilang di atas, gogrok, terkena injakan kakinya, jatuh ke dasar tebing.

“Yah mau gimana lagi? Follower dia banyak mana percaya orang-orang kalau kubilang bahwa ide itu sebenarnya datang dariku?” suaranya lirih berujar demikian.

Sebenarnya, siapa sih yang tak ingin terkenal dan dikenal? Berpijar dan cemerlang?

?Nggak ada, Mas!? cetus kawanku tadi membalas di kotak chat di komputerku.

setinggi dan serendah apapun itu, semoga tak ada satu kepala orang lain pun yang kujadikan ancik-ancik kaki untuk bertengger saat ini

Yup, tak ada…
Semua orang ingin sejatinya bersinar meski masing-masing mungkin berkilah dalam definisinya sendiri-sendiri. Tapi seharusnya, upaya untuk membuatnya bersinar itu harus melalui cara-cara yang memanusiakan manusia-manusia yang ada di sekitarnya termasuk memaklumi dan menghargai bahwa mereka pun butuh tampak sinarnya.

Malam itu, setelah sesi chat kuselesaikan, kupejamkan mataku sebentar. Sudahkah diriku bersinar? Temaram atau terangkah? Sudah tinggikah posisiku di tebing kepopuleran ini?

Duh Gusti, setinggi dan serendah apapun itu, semoga tak ada satu kepala orang lain pun yang kujadikan ancik-ancik (tumpuan kaki, -jawa) kaki untuk bertengger saat ini.

Sebarluaskan!

29 Komentar

  1. Ya…ya…. Si anu kan?

    Balas
    • sapa ya wong e kuwi? Inisial.. inisial.. :D

      Balas
      • Inisial? A – Z :))

        Balas
    • Anu apa uni?

      Balas
  2. aku setuju, kalo gak tinggal di Jakarta biar bagaimanapun hebatnya otakmu, selalu temaram. sekian

    Balas
  3. saya sudah bacaa ~
    kalau saya menyebutnya social (media) climber masn dv :D
    kalau si anu dan si itu ra paham, tapi kira-kira begitu. hehe

    Balas
    • ya social media atau yang lain harusnya punya ciri yang sama.. medianya aja yang berbeda hehe

      Balas
  4. ada juga lho social climber dengan memakai hubungan percintaan. mendekati lawan jenis sana-sini dgn harapan ikut nyemplung ke lingkaran orang2 terkenal dengan strata sosial ekonomi tinggi. pelan-pelan naik, lalu dapat keuntungan dgn kebagian proyek dan pekerjaan mentereng.

    Balas
    • surhat ra iki? :)

      Balas
  5. Itu namanya laki punya titit bencong punya nama. ;)

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

    Balas
  6. hehehe. Selama panjat pinang masih diperlombakan dalam HUT Kemerdekaan Indonesia, ya menjadikan kepala orang lain sebagai ancik-ancik masih akan terus berlanjut. Untungnya saya tidak suka menonton, apalagi mengikuti “panjat pinang” :)

    Balas
  7. Hahahaha…ya sosial klaimber iki modal utama untuk nyaleg lah minimal, opo batu pijakan jadi bas $#!@#!R$%^)*&*&^! *dibekap*

    Balas
  8. iki apik :

    “Duh Gusti, setinggi dan serendah apapun itu, semoga tak ada satu kepala orang lain pun yang kujadikan ancik-ancik (tumpuan kaki, -jawa) kaki untuk bertengger saat ini”

    Amin

    Salam sehati

    Balas
  9. Melu nyimak wae, koyo lomba panjat pinang wae… :D

    Balas
  10. piye? wis lojon? dilatih lho ndak bujel.

    Balas
    • Ngaannnn!!! :)

      Balas
  11. Bahasanya sederhana gampang dicerna, keren tulisannya :)

    Balas
    • Makasih! Sering-sering kemari ya, blog ini update setidaknya setiap senin dan kamis…

      Balas
  12. ah, menikam dr belakang ^^ kl ak sih liatnya malah bukan climber tp lbh kejam lagi untuk kasus ini .. ya tadi itu menikam dr belakang … kl aku percaya karma, tetap saja berbuat baik dan suatu saat karma baikpun akan datang pada kita :)

    Balas
  13. Syukurlah saya menikmati segala sesuatu dengan santai….
    Bekerja keras sesuai job description, pulang ke rumah ngeloni anak-anak…tidur.
    Saya mungkin penganut kepercayaan bahwa Gusti Allah ora sare…dibalik kerja keras dan usaha…akan hadiah atau bonus dari Tuhan.

    Dan ikhlas menjalani dengan penuh syukur……dan ternyata perasaan ini semakin intensdengan bertambahnya usia, yang ternyata membuat hidup lebih tenang,

    Balas
    • Secara ringkasnya, urip sakmadya ya Bu.. Sepakat!

      Balas
  14. Maksud nya biar populer di tweeter gitu ? #halah miapah

    Balas
    • Hayah… miapah? Mi.. PKS :)

      Balas
    • Kamu emang kepo-an, pantes sering detected as spammer :)

      Balas
  15. Hi mas DV, tulisannya bagus, enak dibaca dan ga kepanjangan..pas cara penyampaian setiap topik serta penih dgn wawasan. Trima kasih, ditunggu topik2 lainnya.

    Balas
    • Terimakasih atas kunjungannya. Topik-topik lain selalu muncul setiap hari senin dan kamis di blog ini. Sering-sering mampir ya…

      Balas
  16. wah ini artikel yang MAK JLEB sekali

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.