Ancik-ancik Ndase Liyan

28 Mar 2022 | Cetusan

Para ‘sultan’ yang ditangkap terkait kasus penipuan investasi itu sejatinya lebih layak dipanggil sebagai raja… raja tega.

Mereka tega ancik-ancik ndase liyan. Sebuah istilah Bahasa Jawa yang kalau ‘diindonesiakan’ secara kasar adalah berpijak di atas kepala orang lain.

Mereka, para raja tega itu, mengumpulkan uang dari orang-orang yang berhasil diiming-imingi untuk mendapatkan kekayaan seperti yang ditampakkan di akun-akun social medianya. Seolah-olah apa yang dipamerkan adalah sebuah keberhasilan dari bisnis tersebut. Padahal, justru uang orang-orang itulah yang membeli segala kemewahan yang ditampakkan!

Ancik-ancik ndase liyan bukan cuma soal uang. Seorang menjambret ide orang lain dan mengaku-aku sebagai ide pribadi. Itupun bisa masuk dalam kategori ini. 

Di dunia kerja, sepertinya hal ini adalah pengecualian. Aku pernah mendengar banyak curhat dimana seorang manager dengan tega mengaku ide dan pekerjaan yang dilakukan anak buahnya dianggap sebagai hasil kerja kerasnya sendiri. Aku gak bisa menyalahkan sepenuhnya sang manager karena bagaimanapun juga pekerja yang ada di bawahnya memang digaji untuk memberikan yang terbaik dalam parameter waktu dan tenaga, bukan?  

“Ya tapi kan nggak gitu-gitu amat harusnya, Don?”

“Oh well…. Kalau kamu nggak sreg  keluar aja biar managermu tahu rasa! Tapi… lalu kamu makan apa?”

Kadang secara tak sengaja kita pun melakukan hal yang sama, ancik-ancik ndase liyan. 

Aku pernah.
Duduk di tampuk pimpinan sebuah organisasi non-profit, aku sempat jumawa karena tim berhasil melakukan sebuah terobosan. Idenya memang ideku tapi tenaga dan waktu adalah milik mereka, para liyan yang ndas-nya kuancik-anciki.

Yang terbaik untuk menghindari keadaan seperti itu adalah secara jujur dan terbuka memberi kredit kepada mereka yang bekerja sesuai porsi dan kesepakatan.

Yang tidak baik adalah ketika kita sadar bahwa kita berada di atas kepala orang lain tapi pura-pura tidak tahu atau pura-pura tidak mengakui kerja keras mereka. 

Sejatinya kita perlu mengasihani pribadi yang seperti itu. 

Pribadi yang tidak percaya diri dan tidak percaya kepada Tuhan yang mereka aku-aku percayai. Lho kok bisa sampai ke Tuhan? Iya, karena bagiku Tuhan itu tidak pernah lupa untuk memberikan talenta kepada setiap makhluk yang diijinkanNya untuk hidup.

Lalu apa tujuan ancik-ancik ndase liyan?

Supaya seseorang menonjol dibandingkan sekitarnya.

Sejak kecil, posturku termasuk yang paling tinggi di antara teman-temanku. Pernah suatu waktu ada foto kelas di akhir tahun pelajaran untuk keperluan buku tahunan. Kami yang posturnya termasuk tinggi disuruh berdiri di barisan paling belakang. Yang tingginya sedang, di depan kami lalu yang paling tidak tinggi ada di urutan terdepan supaya wajahnya bisa terekam kamera dengan baik.

Tapi ada satu teman yang sangat pendek bahkan untuk disejajarkan dengan yang paling tidak tinggi sekalipun. Wali Kelas pun mengakalinya, dia disuruh ancik-ancik dingklik (bangku pendek/stool) supaya tampak tinggi lalu dijejerkan dengan kami yang paling tinggi. Wajahnya pun mendadak sumringah karena ancik-ancik yang diberikan membuatnya tampak lebih tinggi, sesuatu yang tidak pernah ia miliki dan rasai.

Bayangkan kalau dia tidak diberi dingklik? Ya pasti tampak aslinya.

Tapi kalau diberi kursi yang lebih tinggi? Ya akan tampak lebih  tinggi lagi…

Maka jadilah diri sendiri.
Yang sudah terlanjur jadi sultan dan dibui biarlah mereka mendapat pelajaran berharga meski harganya muahal banget karena harus dipenjara dan dipermalukan di berbagai media.

Selebihnya mari terus menggali potensi diri dengan tekun.

Kalau gagal, bangkit berdiri!
Gagal lagi, berdiri lagi! 
Dan setiap mampu berdiri, pastikan kakimu menyentuh tanah, bukannya ancik-ancik ndase liyan!

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Masnya nih, nulis kok ya gampang banget. Kalau saya sudah di depan laptop mau mencoba menulis sesuatu ujung-ujungnya ya muter-muter aja baca tulisan orang lain, entah di facebook, entah di quora.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.