Ananda dan penanda

14 Nov 2017 | Kabar Baik

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”
(Lukas 17:10)

Merendahkan diri serta taat di hadapan Tuhanadalah kunci kita untuk memiliki hati sebagai hamba.

Hal itu yang ingin dikatakan Yesus dalam Kabar Baik hari ini bukan dengan kata-kata tapi juga aksi nyata. Yesus itu Anak Allah tapi Ia memberi contoh kepada kita tentang bagaimana merendahkan diri di hadapan BapaNya serta taat atas jalan yang sudah dikehendakiNya.

Kalau mau, Ia bisa saja menghindari hukuman salib yang dijatuhkan Pilatus atas diriNya. Tapi Ia menerima bukan karena Ia menghormati Pilatus yang menjatuhkan hukuman tapi karena Ia tahu otoritas atas diriNya datang langsung dari Allah (bdk. Yoh 19:11).

Ciri hati hamba adalah adanya keberpihakan pada Allah bukan atas diri kita sendiri. Sekalinya kita menghamba kepadaNya, hidup ini bukan lagi milik dunia, bukan pula milik diri tapi milikNya, seutuhnya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah menghamba pada Tuhan berarti kita tak harus menghamba pada negara?

Jelas tidak! Ada hubungan yang lebih ?layak? daripada hamba-tuan antara kita dan negara. Yang lebih tepat barangkali adalah saling setia dan menghormati antara kita dan negara, pemerintah dan warganya.

Semalam Tunggonono menelponku.
Dia tanya perihal Ananda Sukarlan yang ramai dikabarkan melakukan aksi walkout saat Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta hadir dan memberikan pidato dalam acara yang digelar almamaternya, SMA Kolese Kanisius Jakarta.

?Bos, kan kamu anak kolese juga meski Kolese De Britto. Gimana pendapatmu tentang Ananda??

Aku terdiam.
Aku tak ingin menjawab bukan karena tak punya jawaban tapi karena tak ada urusannya denganku. Kenal saja enggak, hadir dalam acara pun juga tidak.

Tapi pertanyaan mantan satpamku itu mengular di kepala hingga akhirnya menjelang tidur, aku teringat apa yang ditulis Santo Paulus pada umat di Roma.

Apa yang ditulis Paulus ini tentu tak menjawab pertanyaan Tunggonono tentang Ananda Sukarlan tapi bisa dijadikan pegangan kalau suatu waktu kita lupa bagaimana menerapkan ?hati sebagai hamba? dalam menghormati sebuah institusi pemerintahan dan negara.

Berikut petikannya.

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah?yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.?Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan? Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.
?Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak,?w??cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. (Roma 13:1-2, 7)

Adakah walkout-nya Ananda adalah penanda ketiadaan hormat terhadap seorang Gubernur DKI Jakarta? Biarlah anak Pak Sukarlan dan Bu Poppy Kumudastuti itu yang menjawabnya.

Mari tetap melanjutkan tugas untuk memelihara hati sebagai hamba yang mau taat dan setia bagi Bapa?.

Sydney, 14 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.