Anak Manusia dan ketidakmampuan kita untuk memahami-Nya

30 Apr 2019 | Kabar Baik

Kebingungan Nikodemus berlanjut. Kemarin, petinggi agama Yahudi itu dibuat bingung karena Yesus mengatakan bahwa orang yang masuk kepada Kerajaan Allah adalah mereka yang lahir baru dalam air dan Roh. Hari ini, Yesus berkata tentang Anak Allah yang adalah diriNya sendiri.

?Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia,? demikian kata Yesus pada Nikodemus. (lih. Yoh 3:13)

Memahami ajaran Katolik tidak mudah!

Memahami konsep ajaran Katolik itu tidak mudah sama sekali. Kecuali dalam keadaan darurat, seorang dewasa yang hendak ?memeluk  Katolik harus mengikuti proses belajar yang lamanya kurang lebih satu tahun, itupun kalau Gereja memutuskan bahwa seseorang telah dianggap ?lulus? pada akhir proses tersebut.

Tapi kalau sudah ?lulus? apakah itu jaminan kita sudah tahu keseluruhan materi konsep ajaran Katolik?

Tidak juga! Tapi setidaknya selama proses tersebut, dasar-dasar iman diajarkan. Karena mustahil bagi kita untuk memahami seluruh ajaranNya. 

Memahami tentang Tuhan adalah pekerjaan yang tak mengenal kata henti. Ia harus dikerjakan terus-menerus seperti Nikodemus mengerjakannya tanpa henti.

Justru kalau kita sudah merasa mengerti semuanya, di titik itu kita diajak untuk berhati-hati karena perasaan tak mewakili kenyataan.

Anak Allah

Seorang kawan yang berbeda keyakinan pernah bertanya kepadaku kenapa aku percaya bahwa Yesus itu adalah Anak Allah?

Aku sempat bingung menjawab. Hendak kucoba untuk menjawab berdasarkan kitab suci, takutnya pengertianku salah! Tapi kalau tak mau dijawab, apalah artinya aku menulis renungan Kabar Baik harian, kan?

Kupilih jawaban yang strategis.

?Begini, Bro! Keyakinan bahwa Yesus adalah Anak Allah itu seperti halnya ketika seorang pria dijelaskan tentang betapa baik calon bapak dan ibu mertuanya oleh sang pacar. Pada awal-awal pacaran, pria itu percaya saja ketika sang pacar bilang bahwa bapak dan ibu mertuanya baik. 

Seiring berjalannya waktu, gambaran itu tampak kian jelas potongan-potongan puzzle yang terangkai melalui cerita-cerita tentang betapa calon bapak mertuanya adalah seorang pecinta tanaman yang tekun dan calon ibu mertuanya adalah seorang wanita yang suka merenda di depan jendela di sore hari.

Hingga di satu titik, si pria tadi bilang kepada sang pacar, ?Semakin lama aku mengenal bapak dan ibumu dari cerita dan sikapmu, semakin aku mengenal bahwa hal itu sesungguhnya ada dalam dirimu sendiri!?

Si pacar mengangguk dan bilang, ‘Ya karena aku adalah Anaknya!’

Hingga akhirnya saat yang dinantikan tiba. 

Sang pacar membawa pria tadi ke rumah dan mendapati kenyataan bahwa ayah dan ibunya memang seperti apa yang telah ia percayai sejak awal mula.”

?Jadi maksudmu, kamu percaya Yesus seperti kamu percaya pacarmu yang anak dari calon bapak dan ibu mertuamu?? tanya kawanku tadi.

Aku tersenyum.
?Jangan terburu-buru menyimpulkan. Aku belum pernah bertemu dan masih sibuk membayangkan serta melengkapi puzzle bayangan wajah itu?.?

Sydney, 30 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.