Anak Bungsu dan keberanian untuk bertobat

24 Mar 2019 | Kabar Baik

Sebuah kisah klasik yang diutarakan Yesus dilukis Lukas sebagai Kabar Baik hari ini.

Seorang anak bungsu meminta harta warisan padahal ayahnya masih hidup. Harta itu lantas dipakai si bungsu untuk berfoya-foya. Hal yang tak diperkirakan pun melanda; bencana kelaparan. Si Bungsu tak lagi punya uang dan jatuh miskin serta hidup terlunta-lunta. Ia memutuskan bertobat, kembali ke rumah ayahnya dan meminta maaf. (lih Lukas 15:11-32)

Kenapa si bungsu berani bertobat?

Yang menarik dari situ adalah kenapa si bungsu berani mengaku salah dan kembali ke rumah? Jawabannya satu: ia percaya bapanya akan memaafkan. Kepercayaan si bungsu berasal dari pengalaman hidup sejak ia lahir dan dibesarkan bapaknya. Andai ia tak ingat dan percaya pada kebaikan bapaknya, pertobatan itu barangkali tak pernah terjadi.

Terhadap Tuhan pun demikian.

Tuhan pasti memaafkan

Ketika hendak bertobat dari dosa, kita harus punya keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memaafkan. Bagaimana bisa tahu? Banyak sumber. Dari ajaran-ajaranNya, dari kesaksian-kesaksian hidup orang-orang di sekelilingnya, dan dari pengalaman hidupnya sendiri yang dikasihi Allah melalui alam dan sesama.

Tapi ada kalanya ingatan dan rasa percaya tak mampu untuk membuat seorang kembali bertobat justru karena ia lebih percaya dosanya sangat berat dan di matanya Tuhan tak sanggup untuk memaafkan. Hal seperti itu dialami oleh Yudas Iskariyot, murid yang mengkhianatiNya.

Yudas

Yudas mengkhianati dan ia tahu benar bahwa pengkhianatan itu adalah sebuah dosa besar. Saking besarnya, ia tak yakin akankah Tuhan mau memaafkan. Padahal Yudas sebelumnya hidup bersama Yesus dalam pelayanan di daerah-daerah, padahal Yudas tahu kebaikan- kebaikan yang diperbuatNya. Melihat tak ada jalan keluar, Yudas pun bunuh diri. Ia mengalami kematian kekal bukan karena dosa pengkhianatannya tapi karena tidak berani bertobat serta tidak percaya pada kerahiman Tuhan yang akan mampu membersihkan dosanya.

Hendaklah kita semakin bertekun di dalam Tuhan. Ketekunan kita akan membuahkan rasa percaya terhadap Tuhan. Sehingga, ketika kita terperosok ke dalam lembah dosa, kita ingat dan kita percaya pada kerahimanNya maka kitapun memutuskan untuk berani bertobat.

Eh, btw, pernah nggak sih kalian kepikiran jangan-jangan si bungsu itu nekad untuk meminta hak waris dari ayahnya justru karena ia percaya bahwa Sang Bapak adalah sosok yang pasti akan meluluskan permintaannya dan akan memaafkan kalau ia harus kembali karena tak lagi punya uang?

Sydney, 24 Maret 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.