Alumni De Britto Jalur Non-Prestasi

18 Sep 2020 | Cetusan

Aku merasa bersyukur karena hingga tulisan ini kurawi, pada akhirnya aku hanya tergabung dalam tiga grup WA yang ?ada ambune De Britto?: JB Klaten Asli karena aku asli Klaten, Wisma Ampel 2 karena aku pernah tinggal di sana dan JB angkatan 96, karena aku lulusan angkatan terbaik tersebut.

Dubes, alumni ber-prestasi

Sebelumnya? Wah, sebelumnya bahkan hingga setahun silam, barangkali kalau tak salah hitung ada lah sekitar dua puluh atau tiga puluh grup WA yang ?ndeBritto?.

Aku bersyukur karena kalau hari-hari ini aku masih ikut banyak grup WA tersebut, aku akan jatuh dalam rasa bosan melihat begitu banyak bersliweran berita dan banjir ucapan selamat atas terpilihnya seorang duta besar yang baru yang lagi-lagi adalah? lulusan De Britto.

Iya! Iya! Aku juga sadar dulu sering bikin kalian bosan dengan postinganku tentang Kabar Baik di grup-grup WA yang kuikuti? Ya salah kalian invite aku, nggak menegurku dan nggak nge-remove aku hahaha?

Banggakah aku dengan prestasi Mas Dubes itu? Tentu! Tapi banggaku sebenarnya bukan karena dia kecuali dengan jadi Dubes lantas dia mengundangku untuk bertamu ke tempat perutusannya secara cuma-cuma :) 

Aku bangga dan bersyukur karena aku tidak salah memilih sekolah! Bayangkan, aku pernah menuntut ilmu di sekolah yang sama, di tempat dimana dulu Mas Dubes juga pernah duduk, mendengarkan guru mengajar, bersenda gurau dengan kawan dan yang paling penting berproses membentuk karakternya.

Dengan bangga pula aku berani bilang, Kalau Mas Dubes itu dulu tak sekolah di De Britto, barangkali dia tak jadi dubes? tapi malah jadi Presiden *eh!.

Prestasi, wajar-tak wajar

de britto

Peristiwa bersliwerannya berita dan banjir ucapan selamat terhadap alumni yang berprestasi tentu tidak kali ini saja. Ada begitu banyak pasukan pengombyong yang ngombyongi kabar-kabar baik keberhasilan alumni lain dan ini wajar!

Tapi kalau kita berani menganggap ini adalah satu kewajaran, bagaimana dengan kawan-kawan lain yang selama ini dianggap dari kalangan non-prestasi? Jangan-jangan kalian bisa bilang, ?Ya wajar juga tho kalau gak berprestasi lantas yang dikeploki apanya? Yang diselamati mananya??

Hati-hati, Lur!
Kewajaran itu subyektif karena bagi sebagian orang, prestasi itu nggak melulu soal mendapat jabatan, berharta banyak dan masuk koran lho! Berprestasi itu bagi sebagian orang lain sesederhana bagaimana membesarkan anak di tengah segala keterbatasan, bagaimana berani bangkit dari serangan stroke.. bahkan bagaimana kita tetap beriman kepada Tuhan di tengah pandemik yang asu-asunan ini? itupun adalah prestasi, bukan!?

Tapi kalau begitu apa lantas berarti untuk setiap hal yang dianggap prestasi kita harus ngeploki dan membanjiri grup WA dengan ucapan selamat? Ya nggak juga! Lebih pada bagaimana aku mengajak kalian semua untuk menilik ke dalam. Bahwa bangga pada kawan-kawan yang prestasinya sampai masuk koran karena mendapat jabatan (atau karena rilis lagu keren seperti saya!) itu boleh tapi sadarilah bahwa diri ini bukannya berarti gak punya prestasi kok! Kita ini berprestasi tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita mengakui prestasi-prestasi itu!

Tapi.. duh tapi lagi!
Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang cenderung merasa minderan sehingga semakin merasa ? tak berprestasi?

Ya nggak masalah to!? Kan dengan lantang kita bernyanyi, ?selalu tetap bersatu dengan semua kawanmu? lha mereka itu apa lantas karena minderan maka nggak jadi kawanmu? Ya jangan ditinggal begitu saja!

Oleh karena itu aku salut pada kegigihan kawan-kawan perintis komunitas-komunitas yang tak pernah berhenti mengajak para alumni untuk bergabung, termasuk mengajak gabung grup WA (dan segelintir yang tanpa permisi langsung meng-invite begitu saja!)

Kenapa?
Karena secara tidak langsung, mereka itu adalah kalangan yang peduli dan menganggap siapapun termasuk yang minderan sebagai bagian dari ?kawan?. Karena siapa tahu, bagi sekalangan orang, dengan memasang foto selfie karena udah lari sekian puluh kilometer di social media? adalah prestasi! Siapa tahu bagi seseorang, membeli sebuah sepeda lipat seharga gitar Accoustic Gibson J-35 kepunyaanku juga adalah prestasi yang hakiki! Siapa tahu pula dengan sanggup berbagi guyonan receh? adalah prestasi juga! Siapa tau, kan? :)

Jadi pada intinya, lantas semua ini sudah baik-baik saja adanya dan tulisan ini? sama sekali gak ada isinya. Kopong! Kosong.

Lalu kenapa kamu nulis, Su? Su DV?

Ya?. Itung-itung dengan aku nulis nyinyir begini aku terhibur! Karena dengan nyinyir, aku telah merasa ? BERPRESTASI!

Sydney, 18 September 2020

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. 2 alumni YB yg pernah jadi Dubes Vatikan, satu kali lagi : hattrick.
    Siapa tahu om DV yg ditunjuk

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.