Akankah ragi perpecahan hilang setelah pilpres berakhir?

19 Feb 2019 | Kabar Baik

Hari ini Yesus memperingatkan para murid supaya berhati-hati pada ragi orang Farisi dan ragi Herodes. (lih. Markus 8:14-21). Ragi itu pengaruh. Yesus meminta para murid berhati-hati terhadap pengaruh buruk mereka.

Farisi dan Herodes

Orang Farisi dikenal sebagai orang yang mendalami agama tapi tidak mempraktekkannya secara utuh. Agama sering dijadikan alat untuk ?pencitraan? tapi nyatanya mereka banyak melanggar hukum-hukumNya.

Herodes adalah raja yang lalim. Karena takut akan Yesus, ia menyuruh para prajurit untuk membunuh semua bayi lelaki dengan berharap Yesus ikut terbunuh. Ia juga memenggal kepala Yohanes Pembaptis karena Herodias menyuruhnya setelah Yohanes mengatakan bahwa Herodes mengambil istri saudaranya sendiri.

Pilpres 2019

Gonjang-ganjing Pilpres 2019 makin terasa sangat. Gempita pesta demokrasi lima tahun sekali itu sudah begitu mengubah banyak hal dalam hidup sosial kita.

Seorang kawan curhat kepadaku lewat WA akhir-akhir ini. 

Sebelum rame kampanye Pilpres, kawanku ini akrab betul dengan teman-teman alumni se-SMP-nya dulu. Selain bikin grup WA seperti kebanyakan dari kita, mereka juga kerap kumpul entah itu ngopi atau piknik bareng. Seru pokoknya!

Tapi setelah masuk masa kampanye, kawanku tadi punya pilihan pasangan capres-cawapres yang ternyata berbeda dengan kawan-kawan alumni kebanyakan. Awalnya sih santai tapi lama-kelamaan kawanku merasa dicuekin.

Hingga suatu waktu ia kaget melihat postingan IG (Instagram) salah satu kawan alumninya. Mereka bertemu di coffeeshop dan memamerkan foto selfie bareng-bareng. Kawanku tak diajak. Ia merasa terasing padahal sebelumnya ya baik-baik saja.

Usut punya usut, ternyata kawanku memang ditinggalkan karena pilihan capres-cawapresnya. Kawanku juga baru sadar bahwa mereka bikin grup WA baru tanpa melibatkannya, ?Pantas grup WA alumni SMP ku kok sepi banget akhir-akhir ini, ternyata mereka bikin baru! Dasar!?

Imbas

Pilpres tak bisa dipersalahkan! Justru pilpres amat diperlukan untuk menentukan nasib bangsa setidaknya dalam lima tahun ke depan. Pasangan capres-cawapres juga tak menanggung salah. Mereka adalah putra-putra terbaik bangsa yang ingin mendarmabaktikan hidupnya dalam lima tahun ke depan untuk kepentingan nasional.

Yang patut dikambinghitamkan adalah imbas. Imbas dari perhelatan demokrasi akbar itulah yang membawa ragi/pengaruh yang tak semuanya baik.

Tingginya faktor kompetisi dan rasa ingin menang dari para pendukung kadang membuat perpecahan terjadi bak cendawan di musim hujan. Salah satu contohnya ya yang terjadi pada kawanku tadi. Parahnya lagi, hal yang memecah belah tak lagi hanya di tingkat pilihan capres-cawapres tapi lebih dalam daripada itu karena ragi perpecahan sudah menyentuh pada hal-hal esensial: agama, suku, ras dan golongan.

Sesaat setelah kawanku curhat, aku diam dan merenung, akankah setelah Pilpres semuanya akan kembali baik adanya? Bisakah kita menghilangkan ragi yang sudah mencemari kehidupan sosial selama beberapa bulan terakhir?

Terlepas dari suka-tidak suka terhadap pribadi Anis Baswedan, aku selalu ingat dan mengamini apa yang dikatakannya beberapa waktu silam, ?Lawan main badminton adalah kawan berolahraga??? Sekeras-kerasnya kita saling berlawanan dalam Pilpres kali ini, semoga kita selalu ingat bahwa mereka dan kita semua adalah anak-anak satu bangsa, Indonesia!

Sydney, 19 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.