Ahokisme: Kalau miskin pada tahu dirilah!

24 Jun 2017 | Cetusan

Salah satu quote Ahok yang menurutku paling kontroversial adalah ketika ia bilang, “Ya, kalau miskin pada tahu dirilah!”

Bagaimana hal tersebut bisa terucap dari mulutnya?

Menurut Kompas.com , waktu itu Pemprov DKI dibawah komando Jokowi – Ahok hendak menggusur rumah-rumah yang berdiri di atas tanah negara di bantaran Waduk Pluit. Usaha itu rupanya tak disambut baik oleh warga, mereka meminta ongkos ganti rugi atas penggusuran itu meski Pemprov telah memberikan segala fasilitas pengganti.

Pada 29 April 2013, di Balaikota Jakarta, Ahok pun berkomentar, “Dikasih rusun, enggak mau. Dikasih rumah, enggak mau. Ya, kalau miskin pada tahu dirilah!”

Seorang kawan yang lemah lembut dalam bertutur kata membisikkan kepadaku, “Coba Mas Donny berada di posisi si miskin, lalu ada seseorang berkata seperti itu, apa sampeyan nggak sakit hati?”

Aku manggut-manggut.
Aku tak sanggup membayangkan mungkin bias karena aku mendukung Ahok dalam Pilkada tempo hari…

Masih dalam ketermanggutanku, aku malah berpikir bahwa meski demikian, dalam masa pemerintahannya yang singkat, Ahok toh sudah memberikan begitu banyak manfaat untuk warga Jakarta termasuk orang miskin. Rusunawa, bantuan sosial dan pendidikan, harga daging murah, taman-taman terbuka yang bisa diakses tanpa biaya dan banyak lagi.

“Benar, Mas! Sahih! Tapi sekali lagi, sakit hatikah sampeyan jika berada di posisinya?” kawanku tadi berbisik lagi. Lagi-lagi aku tetap tak bisa membayangkan apalagi memberinya jawab.

“Atau tak bisakah ia memilih diski/kata lain sehingga kalimat itu tak terucap, Mas?”

Aku geleng-geleng kepala.
Aku hanya membayangkan semoga dalam kurun waktu dua tahun sejak Mei silam, dikurung membuat Ahok sanggup merenungi banyak hal termasuk tentang pentingnya penguasaan ilmu tutur pasca kebebasannya nanti.

Sementara itu, mari sama-sama duduk manis di pinggir gelanggang menanti kiprah gubernur baru yang konon punya senyum memikat dan tutur-kata yang ‘marak ati’ itu menggunakan karismanya untuk membangun Jakarta. Sejauh mana ia mampu merealisasikan janji-janji kampanyenya, seberguna apa ia dan kebijakan-kebijakannya terhadap kehidupan rakyat kecil dan rakyat miskin dan lebih bagus atau justru lebih burukkah ketimbang Ahok, pendahulunya?

“Yang kukhawatirkan sebenarnya satu, Mas!
Kalau gubernur baru itu nanti gagal membuktikan bahwa tutur-katanya sehalus dan sesuci tindak-tanduknya, takutnya kita semakin percaya bahwa tak santun itu tak mengapa yang penting pekerjaan dan hasilnya, padahal bukankah tetap lebih baik lagi kalau seorang pemimpin itu santun dan tetap bekerja untuk rakyatnya?” jawabku pada kawanku yang lembut hati dan pituturnya itu…

Menurut kalian, bagaimana quote Ahok ini? Sakit hatikah jika kalian seorang miskin dan dikata-i ‘tahu dirilah’?

Model foto utama:
Ipin Tan, pembeli kaos ?Ahok!? karya Politik Merchandise. Dapatkan koleksi terbaru Politik Merchandise di laman facebooknya di sini.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Kalo sy diomongin gitu, pasti marah, karena merasa posisi sy miskin, terus kelihatannya dihina-hina lagi. Yang lebih utama karena sy menuntut ‘hak’ yg bukan ‘hak’ sy. Karena dgn alasan kemiskinan dpt membutakan perasaan & logika

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.