Ahok yang kian bercahaya dan kebaperan kita

13 Agu 2018 | Cetusan

Tak ada yang lebih disyukuri daripada berita yang dibawa Luhut Panjaitan, Menko Kemaritiman yang juga sahabat Presiden Jokowi itu. Ia mendapat pesan tertulis dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta yang masih mendekam dalam penjara. (Simak di sini beritanya.)

Ahok, menurut Luhut, tak marah dengan dipilihnya Maruf Amin sebagai pendamping Jokowi dalam Pilpres 2019 nanti. Bahkan, masih kata Luhut, Ahok menyatakan keinginannya untuk bergabung dalam tim kampanye Jokowi-Maruf Amin selepas penjara nanti.

Kenapa berita itu begitu baik, karena setelah Jokowi memilih Maruf Amin, konon banyak Ahoker (pendukung Ahok) yang kecewa lalu memilih untuk bersikap golput, alias tidak memilih dalam Pilpres 2019 mendatang.

Bagi kalian yang belum tahu, Maruf Amin yang juga ketua MUI itu adalah orang yang dulu menyetujui dikeluarkannya fatwa terkait kasus Ahok. (baca di sini referensinya)

Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

  1. Potensi Jokowi kehilangan suara dari kalangan Ahokers yang baper akan terkurangi karena Ahok telah menyatakan dukungannya pada pasangan Jokowi – Maruf Amin.
  2. Kejadian ini membuktikan besarnya karisma tokoh ?junjungan? amat mempengaruhi pilihan orang. Ahok adalah tokoh berkarisma. Apa yang dikatakan, diikuti pengikut-pengikutnya. Hal yang sama mengingatkanku pada HRS di kubu sebelah. Pilihannya terhadap pasangan calon bisa menjadi rekomendasi dukungan amat kuat bagi pengikutnya.
  3. Dari poin di atas, kritik bisa kita ajukan pada diri sendiri. Ketika memilih pasangan A atau B karena junjungan kita merekomendasikan hal tersebut, sejatinya kita kurang percaya diri. Kita tak bebas memilih menggunakan akal dan budi, kita mencari referensi pihak luar untuk memutuskan. Hati-hati! Peluang untuk sakit hati perlu diperhitungkan. Kok bisa? Simak poin berikutnya.
  4. Orang yang bertikai saat ini bisa jadi berangkulan demi kepentingan yang sama tak lama lagi. Junjungan yang kali ini memihak A, suatu saat nanti bisa berbalik mendukung B dan sebaliknya. Politik itu cair. Kalau kita terlalu kaku, sakit hati adalah imbalannya.
  5. Makanya memilihlah berdasarkan nilai-nilai yang dibawa pasangan pilihan. Dari nilai itu kita mempertimbangkan dan memutuskan dukungan. Kalau nilai-nilainya sama dengan yang kita anggap akan mampu membawa bangsa dan negara ke arah yang lebih baik ya kita dukung. Ketika nilainya tak sama lagi ya lepaskan dukungan. Atau saat melihat ada pasangan lain yang lebih baik dari sudut pandang nilai itu, tak perlu ragu untuk mengubah arah dukungan.
  6. Hal terbesar yang kupelajari dari semua ini adalah kita diberi kesempatan untuk melihat kedalaman hati Ahok. Ia semakin gemilang dan bercahaya. Dalam bahasa iman, apa yang dilakukan Ahok adalah memaafkan apa yang telah terjadi. Ia juga mengorbankan rasa sakit dan luka hati? (jika masih ada) demi kepentingan yang lebih besar, bangsa dan negara yang begitu ia cintai, Indonesia.

Jadi, udahan ya baperannya!

Kembali dukung Jokowi! Kalau memang belum bisa terima juga pada cawapresnya, nanti di TPS yang dicoblos Jokowinya saja!

Gitu aja kok repot?

 

Salam Cepret,

 

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Bedakan dulu makan pakai sendok vs makan sendok dulu. Langkah berikutnya ditentukan setelah step ini. Kalau bahasa indonesia aja sulit, gimana memimpin bangsa? Paku bisa dicabut dari kayu. Tapi bekasnya tidak hilang.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.