Ahok-ahok! Ihik-ihik!

28 Jul 2016 | Cetusan

Di salah satu grup WA yang kuikuti ada seseorang berkomentar pedas terkait keputusan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang akhirnya memilih jalur parpol ketimbang independen, 27 Juli 2016 lalu.

“Lambe ora adoh saka silit” yang dalam bahasa Indonesia berarti Bibir tak jauh dari lubang anus.

Sebuah pepatah jawa lama yang mengisyaratkan seseorang yang tak konsisten dengan apa yang pernah diutarakannya.

Ahok dinilai tak konsisten dengan omongannya sendiri dan mungkin hal itu benar.

Adalah benar bahwa Ahok pernah berkata, “Saya lebih komitmen ke independen, mereka (pendukungnya di jalur independen) sudah berusaha sejak awal,” seperti dikutip oleh Tempo di sini.

Ahok juga pernah berujar bahwa mencalonkan diri lewat partai itu identik dengan biaya seperti ditulis Merdeka, “Kamu hitung berapa biaya kalau mau pakai parpol” ujarnya.

Tapi katakanlah memang Ahok tak konsisten, siapakah kita ini sehingga berhak untuk berkata demikian? Kenapa kita lantas kecewa?

Capek, Don! Udah macet dan jauh ke mall cuma buat setor KTP eh nggak taunya begini!

Kalau memang kita melakukan semua itu karena Ahok, sejatinya kita tak perlu kecewa apapun yang jadi keputusan mantan bupati Belitung Timur itu. Justru kecewa itu misalnya Si Ahok memutuskan mundur dari pencalonan Pilkada atau misalnya setelah memutuskan ikut jalur independen ternyata dijahilin KPU dan dianggap diskualifikasi untuk maju ke Pilkada.

Tapi kalau rasa kesal itu semata-mata karena keputusannya memilih jalur parpol, jangan-jangan kita kecewa karena gagal melampiaskan ego kita?

Ego yang kita lemparkan ke parpol seolah semua orang parpol identik dengan uang haram dan kuasa-kuasa gelap lainnya. Ego yang memasung Ahok untuk kita jadikan tumbal dari kekesalan kita itu yang katakanlah si tumbal akhirnya menang, kemenangan itu lantas kita klaim sebagai kemenangan rakyat (baca: kita)?

Kalau memang semata-mata hanya demikian kenapa tak datang saja ke rumah Haji Bolot, minta dia maju Pilkada dan kalian jadi pendukungnya dengan jalan independen?

Mari justru kita gunakan momentum ini untuk berpikir positif. Bahwa usaha kita untuk mengumpulkan sejuta KTP untuk Ahok tidak pernah sia-sia karena membuat Ahok yang kita cintai itu memiliki kepercayaan diri bukan sebagai orang yang memohon-mohon datang ke partai tapi sebaliknya, ia didekati parpol untuk dipinang dan dipilih.

Perkara nanti Ahok jadi berubah atau tidak setelah menang dan menggunakan parpol, itu adalah kesangsian yang agak berlebihan karena apa kalian lupa, bahwa yang mendudukkan Jokowi dan Ahok untuk maju ke Pilkada 2012 silam pun adalah partai politik. Dan bukankah Ahok tak berubah selama ini?

Ahok-ahok! Ihik-ihik!

*Aku menggunakan kata ganti ‘kita’ menyeolahkan diri sebagai warga Jakarta yang mendukung Ahok dan ikut mengumpulkan KTP baginya.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Kalo saya sudah menduga dari awal ndes-e akan pakai jalur parpol pada akhirnya. Jual mahal dulu berkoar lewat jalur independen biar posisi tawarnya naik. Gitu aja kok repot.

    Balas
  2. Ara ra melu2, cah mbekasi og

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.