Agamamu kwalitet nomer satu?

12 Mei 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 12 Mei 2017

Yohanes 13:16 – 20
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.

Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.

Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”

Renungan

Semalam aku diminta mengisi sebuah sesi wawancara online jarak jauh. Aku berbicara tentang produk yang kubangun bersama kawan-kawan di Indonesia dan di sesi itu, selain diminta memberikan tips dan trik menjalankan bisnis jarak jauh (karena perusahaan dan kantor ada di Jogja sana sementara saya ada di Sydney) aku juga diminta menjawab beberapa pertanyaan yang dilayangkan oleh para hadirin.

Salah satu pertanyaan yang paling kuingat adalah, “Mas, dibandingkan dengan kompetitor, apa keunggulan produkmu?”

Pemilik produk yang sedang promo biasanya akan menjawab lugas (dan standard) begini, “Oh produk saya bisa begini dan begitu sementara produk mereka nggak bisa.”

Tapi jawabanku malam itu nggak begitu. Lebih sederhana tapi barangkali tak biasa, “Saya nggak tertarik untuk menilai dan mengomentari produk kompetitor. Saya tertarik untuk menunjukkan bahwa produk saya adalah yang paling baik tanpa harus menjelek-jelekkan mereka.”

Cara pandang tentang seberapa baik agamamu, bagi beberapa oknum akhir-akhir ini diprespektifkan dengan cara memperbandingkannya dengan agama-agama lainnya. “Agamaku bisa begini dan begitu sementara agama mereka nggak!”

Sebenarnya wajar dan nggak salah kalau orang berpikir bahwa agamanyalah yang paling baik karena bagiku agama adalah sarana untuk memuji dan menyembah Yang Maha Kuasa yang selalu memberikan yang terbaik bagi kita jadi kenapa kita juga tak memilih yang terbaik. Tapi konyolnya, ketika agama harus diperbandingkan yang ada justru kita saling menguji seberapa baik agama kita itu sejatinya dan pengujian itu membuat kita malah tampak pongah dan tak percaya diri, kenapa mesti diuji kalau memang yang terbaik?

Yesus dalam Kabar Baik hari ini mengatakan dengan tegas bahwa Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tak ada yang bisa datang kepada Bapa kalau tak melalui Dia. Mungkin ada yang bertanya, lantas apa bedanya Yesus dan ajaranNya dengan ajaran mereka karena bukankah ketika Ia bilang “tak ada yang bisa datang kecuali melalui Dia” berarti Ia juga sudah membandingkan ajaranNya dengan ajaran-ajaran lain?

Jawabannya sebenarnya mudah, dibikin sama bisa, dibikin beda kenapa tidak?

Banyak kok oknum-oknum kristiani yang juga memperbandingkan agamanya dengan agama-agama lain hanya untuk mendapatkan legitimasi bahwa agamanya lah yang terbaik.

Tapi tak sedikit juga mereka (semoga kita) yang memilih untuk menanggapi ajakan Yesus itu sebagai sarana untuk membangun diri sendiri dan sesama, apapun agamanya.

Seorang kristiani yang baik menurutku harus menanggapi ajaran Yesus tentang jalan dan kebenaran dan hidup ini dengan mengupayakan tiga langkah yaitu ‘di atas’, ‘di bawah’ dan ‘di dalam’.

Maksudnya?
Ketimbang membandingkan agama kita dengan agama orang lain, ketimbang sibuk mencerca orang yang kita anggap menista agama kita yang katanya terbaik, lebih baik meneliti batin, sudahkah iman yang kita berikan adalah iman yang terbaik bagi agama terbaik?

Sudahkah kita ada di atas jalanNya?
Sudahkah kita ada di bawah kebenaranNya?
Sudahkah kita ada di dalam hidupNya?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.