Agama untuk manusia atau manusia untuk agama?

22 Jan 2019 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini memiliki ?nada? yang sama dengan yang kemarin, Yesus dipertanyakan ?kadar ke-Yahudi-annya?. Jika kemarin karena murid-muridNya tak berpuasa, kali ini karena mereka memetik bulir gandum di Hari Sabat. Padahal dalam aturan Yahudi, ada himpunan pekerjaan yang tak boleh dilakukan pada hari yang dianggap suci itu termasuk di dalamnya adalah memetik bulir gandum.

Tapi Yesus menjawab dengan lincah. Kedua jawabanNya inilah yang akan kujadikan sebagai bahan renungan hari ini.

Agama untuk manusia atau manusia untuk agama?

Yesus menjawab, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.? (Markus 2:27)

Peraturan tentang Hari Sabat datang dari Agama Yahudi. Dalam konteks tersebut kita bisa membaca pernyataan Yesus dalam perspektif lebih luas sebagai, ?agama diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk agama.?

Ketika orang tahu aku mengubah topik tulisan menjadi ?lebih agamis? sejak beberapa tahun lalu, banyak yang bertanya, ?Apa kamu sedang mempromosikan agamamu??

Tidak! Aku tidak sedang mempromosikan Katolik. Aku mempromosikan Kabar Baik Tuhan untuk segala makhluk. Hanya kebetulan karena aku beragama Katolik maka yang kupakai sebagai landasan adalah produk institusi agamaku sendiri, Injil. Relasiku dengan agama adalah ragama untukku bukan aku untuk agamaku dan ini jelas kupraktekkan di sini; agama dan produk agama kupakai untuk menyuarakan Kabar Baik Tuhan yang kusebarluaskan di blog ini.

Betapa kontrasnya dengan sekalangan oknum yang gerakannya kupikir semula membela Tuhan, tapi semakin kemari yang kulihat justru agama yang diusung tinggi, melebihi Tuhan. Agama dijadikan supremasi dan dipermuliakan membuat orang-orang yang tak seagama dianaktirikan bahkan diserang sedangkan yang seagama, sesalah apapun dia, tak masalah pokoknya dibela secara membabi-buta!

Pola perjuangan yang seperti itu yang menurutku justru membatasi penyebaran Kabar Baik yang seharusnya berlaku bagi semua makhluk. Kenapa? Karena sejak dalam pikir, konsepnya sudah salah, agama lebih besar dari Tuhan atau Tuhan yang tak bisa dibatasi agama?

Mempelajari Agama

Jawaban kedua Yesus terhadap mereka yang mempertanyakan ke-Yahudi-anNya adalah sebagai berikut:

?Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu ?yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya.? (Markus 2:26)

JawabanNya adalah penjelasan panjang lebar tentang apa itu Hari Sabat. Tampak benar bahwa Yesus nggak asal bertindak, Ia mempelajari dalam-dalam sebelum bertindak.

Begitu jugalah kita. Kita boleh bilang tak hidup untuk agama tapi untuk Tuhan. Namun, karena menurutku belum ada satu institusi/entitas pun yang membahas tentang Tuhan hingga sedalam agama, mau tak mau jika ingin belajar tentangNya, pendekatan terbaik adalah melalui agama.

Hal ini pulalah yang lantas menjadi motivasiku dalam menulis dan terus menulis renunganNya. Kenapa? Karena menulis memerlukan membaca dan membaca itu mempelajari. Setiap hari membaca Kabar Baik dan mencoba mengambil saripati, merenungkan dan menuliskannya membuatku semakin merasa lebih mengenaliNya.

Sydney, 22 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.