Adilkah Ia?

24 Sep 2017 | Kabar Baik

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati
(Matius?20:15)

Pernahkah kamu merasa betapa Tuhan itu tidak adil?

Kalau pernah, kalian tak sendiri, sebagai manusia biasa aku juga pernah merasakan kekecewaan yang kurang lebih seperti itu.

Kita sudah berusaha taat dengan rajin ke Gereja, baik terhadap orang lain , kerja secara lurus dan tak korupsi tapi kenapa kita tak bisa lebih kaya dan bahagia dari mereka yang bahkan nggak mengenal agama dan cuek terhadap tetangga serta ? ssttt katanya ia jago nilep uang negara?

Atau tentang si ibu itu? tampak begitu lembut bersahaja, mulia hatinya dan tak pernah absen ke gereja. Kenapa kini ia menderita sakit kronis sedangkan tetangga kita yang dandannya selalu menor, pulang menjelang pagi sambil sempoyongan karena mabuk dan konon adalah istri simpanan seorang pejabat, malah segar bugar dan happy melulu?

Dimana letak keadilan Tuhan? Katanya Maha Adil?

Kabar Baik hari ini menarik karena bicara tentang keadilan Tuhan. Yesus mengumpamakan Tuhan seperti pemilik kebun anggur. Ia memanggil para pekerja untuk bekerja di ladangnya dan setiap masing-masing dari mereka, dibayar sedinar untuk sehari.

Tapi keputusan itu mendatangkan masalah tatkala beberapa pekerja yang bekerja sejak pagi protes karena digaji sama dengan mereka yang bekerja dari jam lima sore hingga malam. Harusnya gajinya lebih banyak karena yang sejak pagi terpanggang terik matahari sedangkan yang lain tidak?!

Mereka menuntut keadilan. Keadilan versi mereka tentu saja. Dengan tenang namun tegas, pemilik kebun itu berkata, ?Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?? (bdk. Matius 20:13) Pegawai itupun disuruhNya pergi.

Apapun persepsi kita, tapi itulah cara Tuhan memandang keadilan. Inti supaya kita bisa menerima keadilan Tuhan lebih legawa menurutku setidaknya ada tiga.

Pertama, memandang keadilan Tuhan harus pula memandang sifat kemurahan hatiNya. Ia Maha Adil sekaligus Maha Murah. Kita tak bisa memandangnya menjadi Yang Maha Adil saja tanpa jadi Yang Maha Murah serta sebaliknya, Yang Maha Pemurah tapi bukan Yang Maha Adil. Tak bisa!

Kedua, memandang keadilan dan kemurahan Tuhan ada baiknya melihat dulu hubungan kita secara pribadi denganNya. Bayangkan kelemahan-kelemahan serta ketidaklayakan kita tapi kenapa Ia selalu memberi berkat? Tentu karena Ia murah hati!

Ketiga, kalaupun harus terpancing untuk membandingkan apa yang kita terima dari Tuhan dengan apa yang orang lain terima, bandingkanlah dirimu dengan mereka yang kurang beruntung, jangan melulu membandingkan diri dengan mereka yang kita rasa lebih beruntung. Jika kamu merasa Tuhan kurang adil beranikah kamu membayangkan ada di posisi mereka yang lemah itu? Adakah sekali-kalinya mereka juga pernah merasa bahwa Tuhan tak adil karena memberikan mereka kurang dari apa yang kamu terima?

Jadi?
Bersyukurlah atas keadilan dan kemurahan hati Tuhan dan bersikaplah legawa karenaNya?

Sydney, 24 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.