
Orang dan semua hal yang berdiam dalam dimensi waktu adalah obyek-obyek yang harus menerima konsekuensi untuk selalu berubah ataupun mau tak mau, diubah.
Soeharto lengser pagi itu.
Mahasiswa-mahasiswa haus perubahan serta politisi-politisi oposisi mengepalkan tangan dan berseru menang.
Hulubalang-hulubalang yang sepaham dengan Soeharto dan wadya balanya beringsut tunggang langgang menyelamatkan dan membentengi diri serta tak sedikit yang bermetamorfosa secepat kilat supaya tetap selamat.
Mereka dan kita semua yang ada pada masa itu, diubah dan harus berubah secara tiba-tiba, tampaknya!
Tapi apakah sebenarnya demikian adanya?
Soeharto lengser merupakan titik akhir dari rangkaian panjang timbul dan tenggelam masanya.
Ada titian waktu yang memuat perubahan-perubahan kecil dari dirinya dan sekelilingnya yang lantas memuncak pada satu fase dan meledak pada satu titik dan titik itu terbaca sebagai perubahan besar.

Demikian juga yang terjadi pada Mark Zuckerberg dan kawan-kawannya di Facebook.
Keputusannya untuk mengganti tampilan per 4 Maret 2009 yang lalu pastilah bukan satu keputusan yang mendadak.
Pasti ada diskusi-diskusi ringan membahas evaluasi daur hidup design Facebook yang terdahulu.
Pasti ada usulan-usulan yang pada akhirnya rontok maupun mekar tentang bagaimana Facebook selanjutnya.
Lalu kesemuanya pasti sampai pula di muara keputusan dan implementasi dari keputusan tersebut.
Masa menuai kritik dan saran pun tiba sesudahnya!
Ada yang mengacungkan jempol atas perubahan design Facebook, mereka bilang tampilan dan usabilitas-nya lebih paten.
Ada pula yang diam! Tak berkomentar baik ataupun buruknya, mereka lebih memilih untuk tetap beraktivitas seperti biasa, bersosialisasi di situs sosialisasi virtual terwahid itu.
Tapi berapa banyak yang berteriak-teriak seperti kambing kehilangan jenggot memprotes “kebijakan” Facebook itu?
Mulai dari menuliskan suara di “status” sampai pada gerakan-gerakan komunal menghadang perubahan itu, intinya mereka tidak terlalu suka dengan perubahan itu!
Mereka sudah terlalu nyaman berada pada satu titik PW (posisi wuenakk) dan ketika si empunya situs melihat ada satu titik nyaman yang lebih baik lagi untuk semuanya, mereka menolak dengan alasan “sudah enak begini!”
Mereka takut untuk melepaskan sabuk pengaman kenyamanan lalu melompat melalui fase-fase ketidaknyamanan barang sebentar demi sampai pada satu titik nyaman yang baru.
Mereka juga sepertinya lupa pada satu kekuatan alami yang sebenarnya ada dalam diri seorang terlemah sekalipun yaitu adaptasi. Mereka tidak memampukan kekuatan itu untuk dipraktekkan dan lebih sibuk untuk menyangkal diri atas nama kemapanan.
Padahal seharusnya tak demikian bukan?
Tak pandang itu perubahan ke arah yang lebih baik ataupun memburuk, sikap adaptatif kita sangat menentukan keberadaan diri kita sendiri. Buah dari adaptasi adalah belajar dan buah dari belajar adalah hasil yang membuat kita lebih nyaman dan tibalah kita nantinya pada fase pemahaman terhadap perubahan yang semakin meninggi menandakan derajat kemanusiaan kita juga ikut pula membaik.
Ah tiba-tiba aku jadi teringat peristiwa 19 tahun silam, ketika aku dan keluarga orang tuaku pindah dari satu rumah ke rumah yang baru selesai dibangun. Di sebuah sore yang nyaman aku marah-marah ke Mamaku karena tak tahu dimana ia menyimpan odol, pasta gigi yang hendak kupakai untuk menggosok gigi.
“Itu lho di dapur!”
“Iya tapi disebelah mananya?”
“Di atas lemari yang baru!”
“Kenapa sih kok disimpan disitu?”
“Ya nggak papa!”
“Kenapa sih kok harus beli lemari yang baru?”
“Karena lemari yang lama sudah nggak layak pakai di rumah baru ini!”
“Kenapa sih harus pindah ke rumah yang baru?”
Mamaku terdiam sebentar. Tak lama kemudian ia berbicara tak kurang gaharnya…
“Oooooo… jadi kamu, kamu mau tetep tinggal di rumah lama yang sudah reot itu?”
Akupun terdiam… Ibu jari dan lipatan telunjuknya telah menjepit telinga kananku hingga memerah dan panas.
Aku rasai Mamaku sudah mengatasnamakan perubahan ke arah yang lebih baik untuk membungkam suara protesku, protes anti kemapanan terhadap kemapanan yang baru!
Well, meski sedikit nggak nyambung, nun jauh dari selatan tanah air, pada akhirnya aku mengucapkan selamat ber-contreng ria di PEMILU nanti, di pesta perubahan bangsa dan negara kita. Entah aku akan ikut nyontreng atau nggak, karena sudah sebulan lebih aku mendaftarkan diri ke Konsul Jenderal Indonesia di Sydney via internet, tapi tak kunjung mendapat tanggapan serta undangan pemilihan.
Ah, masih belum berubah juga, tampaknya…
Sumber foto dari sini, sini dan sini.
Tinggalkan Balasan