Adakah Yohanes Pembaptis menyampaikan ‘ujaran kebencian’ kepada Herodes?

29 Agu 2017 | Kabar Baik

Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
(Markus 6:27)

Hari ini Gereja Katolik sedunia memperingati hari wafatnya Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus, anak Elizabeth yang menjadi ‘suara yang berseru-seru di padang gurun’ (bdk. Matius 3:3).

Kepalanya dipenggal tentara Herodes setelah ia memperingatkan raja lalim itu untuk tidak memperistri iparnya sendiri, Herodias, karena hal itu tidak halal menurut Hukum Yahudi.

Aku membayangkan jika Yohanes Pembaptis hidup di masa kini dan menggunakan media social sebagai cara untuk lebih menyerukan suaranya, barangkali ia menuliskan kritik kepada Herodes itu di statusnya atau di blognya yang lantas dishare di facebook, twitter dan banyak group WA yang ia ikuti. Lalu ada seorang yang melaporkan unggahan konten itu ke ‘bareskrim’ kepolisian pemerintah Herodes dan iapun diringkus.

Pembicaraan tentang penyampaian pendapat entah itu hoax atau fakta hari-hari makin mengemuka. Malah dalam pekan-pekan ini kita dikagetkan dengan ditangkapnya sekomplotan orang yang memperjualbelikan hoax/berita bohong di social media untuk kepentingan pihak-pihak tertentu yang biasanya terkait dengan politik.

Tentu ada garis tegas yang membedakan antara mereka yang menyampaikan fakta dan mereka yang bicara ngawur tanpa dasar alias nge-hoax. Namun demikian, keduanya berpotensi mendapatkan stempel sama yaitu stempel orang-orang yang menyampaikan ‘ujaran kebencian’ karena siapa yang tak benci ketika dirinya difitnah dan fitnahannya diviralkan? Siapa juga yang tak risih ketika keburukan dirinya disebarluaskan meski yang dikatakan itu benar (meski seharusnya mereka berintrospeksi ya!!!?!)?

Kawan, jaman menuntut kita untuk lebih pandai mengelola hak kebebasan berpendapat. Sebagai orang beriman, tentu tidak halal jika kita membuat dan ikut menebarkan hoax. Tapi kita juga harus berpikir berulang kali sebelum menyampaikan hal yang kita anggap fakta.

Fakta memang harus disuarakan karena ketika kita tahu ada fakta tapi tak disuarakan, kita salah juga.

Kita ditantang untuk memutuskan tentang bagaimana baiknya mengungkapkan fakta. Dalam hal ini, hal terbaik yang harus kita jadikan bahan pertimbangan adalah berdiskusi dengan Roh Kudus yang diam di dalam nurani. Pengambilan keputusan harus selalu berlandaskan pada pertimbangan, “Adakah hal yang akan kulakukan ini adalah demi kemuliaan Allah yang makin besar atau tidak? Mana yang lebih baik?”

Ya, mana yang lebih baik, menyampaikan fakta kepada pihak kepolisian atau melalui social media? Menyampaikan fakta secara langsung kepada yang bersangkutan atau ‘ngember’ di depan kawan-kawan meski yang ‘diemberkan’ itu benar?

Aku tak menghalangi bahkan menyemangati kalian untuk menyuarakan suara selama itu adalah fakta bukannya hoax tapi sekali lagi, ajaklah Roh Kudus untuk memutuskan. Jangan sampai setelah semua mem-viral lalu kamu ketakutan dan merutuki apa yang telah jari-jari tanganmu lakukan di atas keyboard gadget/laptop meski yang kamu sampaikan itu adalah benar.

Selamat memutuskan, selamat bersuara dan berseru-seru dan doaku bagi kalian yang berani menanggung akibat dari lantangnya kebenaran yang disuarakan, semoga Tuhan memberikan kekuatan.

Sydney, 29 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.