Adakah agama itu sejatinya sudah kadaluwarsa? Apakah masih relevan untuk memeluknya?

8 Jul 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini 8 Juli 2017

Matius 9:14 – 17
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”

Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.

Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

Renungan

Yesus mengibaratkan mentalitas dan keterbukaan hati seseorang dengan kantung anggur. Ajaran-ajaranNya memerlukan ‘wadah’; mentalitas dan keterbukaan hati yang mau berubah dan mau diperbaharui.

Tapi apa yang dikatakan Yesus itu adalah dua ribu tahun silam saat hidup barangkali belum sekompleks sekarang.

Bagaimana dengan sekarang saat kemajuan teknologi benar-benar menguasai dunia dan seolah ia menjelma menjadi ‘tuhan’ yang mampu menyelesaikan semua persoalan hidup?

Masihkah agama tidak terlalu usang untuk menyikapi tantangan-tantangan hidup?

Kawanku yang pikirannya selalu ingin dianggap maju menyergah tangkas, “Tentu sudah usang! Kadaluwarsa! Lihat saja bagaimana agama kewalahan menghadapi teknologi internet, kerusakan lingkungan, peperangan tiada henti! Apa andil baik agama dalam hidup ini?”

Internet dan kemajuan-kemajuan jaman sekarang mau dicari pakai metode baca apapun ya tak kan diketemukan dalam Injil karena secara usia, keempat buku karya Matius, Markus, Lukas dan Yohanes itu sudah berusia dua ribu tahun! Bukankah kalau tiba-tiba kamu menemukan kata-kata semacam ‘internet’, ‘tesla’, ‘mercedez bens’ malah hal itu menerbitkan tanya?

Tapi justru di sini peran kita sebagai awam untuk mendekatkan diri pada Gereja benar-benar diperlukan. Kita diajak untuk peduli pada Gereja yang sebenarnya tak pernah statis melainkan terus berdinamika.

Kalian tentu pernah dengar bagaimana Paus Fransiskus merilis ensiklik Laudato Si yang mengajak kita peduli pada bumi? Atau kalau mau bicara soal internet, tahun 2002 silam, Dewan Komunikasi Sosial Kepausan (Pontifical Council For Social Communications) menuang dokumen The Church and Internet.

Jadi? Sebenarnya tak usang, kan?
Yang paling penting justru bagaimana kita sebagai umat Allah juga ikut mengemban tugas untuk mengaktualisasikan ajaran-ajaran Yesus dalam hidup kita sehari-hari.

Ajaran Tuhan tidak pernah dirasa usang kalau kita selalu berusaha mendekatkan diri kepadaNya dan membuatNya sebagai pertimbangan terpenting dalam setiap keputusan hidup yang kita buat!

Lha kalau kita sendiri menjauh, tak pernah peduli pada ajaran dan Gereja serta malah sibuk memasukkan hal-hal lain, ‘isme-isme’ lain untuk dijadikan penimbang utama setiap keputusan, bagaimana kita tak menganggap bahwa agama itu usang?

Sebaru-barunya kantong anggur kalau tak pernah dipakai ya akan dimakan ngengat dan jamuran sehingga ketika ia dialiri anggur dan koyak, bukannya kelalaianmu untuk selalu memakai kantung yang kamu persalahkan tapi justru anggurnya yang kamu anggap sebagai biang karena jatuh ke lantai?

Bukankah ini seperti menyalahkan cermin padahal kitalah yang buruk rupa?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.