7PT ? Taat sampai mati di salib (7 dari 7 tulisan – habis)

3 Apr 2015 | Cetusan, Tujuh pesan terakhir

blog_7pt

Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

 

7. Yoh 19:30 ?Sudah selesai?

Hari ini, sekitar dua ribu tahun silam, sesaat setelah Ia berseru, “Sudah selesai!” Yesus menundukkan kepalaNya, wafat di atas kayu salib.

Dalam hitungan orang Israel dan Romawi waktu itu, kematianNya bisa dibilang sangat singkat, hanya tiga jam sejak digantung di tiang salib. Konon, Pilatus yang dikabari prajurit tentang wafatnya Yesus pun terkejut karena kematian orang disalib biasanya sehari-semalam bahkan ada yang tiga hari baru mati.

Aku membayangkan suasana pasti muram betul di Golgota dan Yerusalem saat itu.?Ada gamang dan takut yang menyeruak di hati para rasul dan ibuNya, Maria. Ada kelegaan tapi sekaligus tanda tanya besar di benak Anas dan anak menantunya, Kayafas, petinggi Farisi. Mereka lega karena musuh bebuyutan mereka telah lenyap. Tapi dalam hati mereka bertanya, “Benarkah Ia bukan Anak Allah karena tabut bait Allah terbelah dua dan gempa terjadi tepat sesudah Ia mangkat. Oh, satu lagi… langit pun mati sinar sejak beberapa jam yang lalu…” Kalau soal Pilatus, ah, ia pasti sangat menyesal karena mencuci tangan saat mengambil keputusan, tiada lain!

Tapi yang paling kecewa dan kelabakan dengan wafatnya Yesus sebenarnya adalah Si Jahat.?Skenario untuk membuat Yesus takluk dengan bujuk rayu kekuasaan duniawi mengalahkan BapaNya lenyap begitu saja dengan kerelaan Ia mati di kayu salib! Apa yang telah mereka persiapkan sejak dosa asal Adam dan Hawa, hancur berantakan dengan penebusan Yesus. Padahal sejak Yesus memulai pelayanan sekitar tiga setengah tahun sebelum hari kematianNya, Setan pun telah mencoba membujuk di padang gurun, tapi gagal. Terakhir mencoba merasuk dan meringsek lewat Yudas, hampir berhasil tapi tetap kandas!

Hal ini membuatku teringat akan apa yang pernah diucapkan seorang sahabat di masa laluku tentang Setan dan kebiasaan kita.?Sahabatku tadi bilang, “Setan itu tahu apa yang kita pikirkan dan jadi kebiasaan kita, tapi mereka tak tahu apa isi hati kita!”

“Maksudnya?”
“Ia tahu apa yang akan kau lakukan kalau menghadapi sesuatu berdasarkan kebiasaanmu…”

“Misalnya?”
“Kamu kan sedang ingin berhenti merokok (waktu itu aku masih merokok, sekitar awal 2000-an)… Kamu sudah berusaha menahan diri untuk tak merokok!?Tapi Setan tahu bahwa semua itu akan sia-sia kalau kamu tiba-tiba stress atau ngantuk padahal sedang lembur pekerjaan…Bener nggak?”

“Hmmmm bener sih, aku pasti akan merokok kalau seperti itu!
“Nah, tepat sekali! Itulah yang para setan tangkap, kebiasaanmu, kelemahanmu!”

“Lalu bagaimana baiknya?”
“Coba buat keputusan ekstrim. Sekali waktu kamu stress, tahan diri, memang berat, tapi tahan untuk tak merokok…”

“Hmmm…”
“Kalau kamu ngantuk padahal sedang lembur pekerjaan… jangan buru-buru ambil rokok. Jalan-jalan ambil udara segar atau lakukan apapun yang tak buruk dan tak merokok supaya tak mengantuk!”

“Hmmm…”
“Di situ setan terkecoh!”
“Ia pikir kamu akan merokok tapi ternyata tidak!”

Demikian juga dengan Yesus.
Ia difitnah, didera, disiksa.
Setan mengira Ia akan memutuskan untuk menggunakan kekuatan ‘super power’-Nya seperti yang pernah Ia tunjukkan dalam mukjizat-mukjizat yang pernah Ia lakukan.

Ia dikhianati muridNya dan tak diakui oleh muridNya yang satunya lagi.
Ditimbang-timbang keberadaannya dengan penjahat besar, Barabas. Dipaku di salib, dihina dengan pakaianNya yang diundi, dicecapi anggur cuka kelas comberan dan dimahkotai duri seraya dilabeli, “Inilah Raja Orang Yahudi” layaknya sebagai ejekan. Setan mengira Ia akan menyerah lalu berteriak “Gue pass! Nyerah!” dan minta kekuatan BapaNya.

Tapi hingga akhir… hingga Ia menundukkan kepalaNya setelah berkata “Sudah selesai!”, apa yang dimaui Setan tak kunjung terjadi. Ia tak bergeming. Ia tahu tugasNya dan Ia tahu kesetiaan Bapa kepadaNya.

Ia taat sampai mati.
Bahkan mati disalib.

blog_yesus

Sesaat setelah mati, setelah lambungNya ditusuk hingga memuncratkan darah dan air, kepala pasukan tentara yang mengeksekusinya berlutut di hadapanNya. Dengan suara tergetar dan tenggorokan yang tiba-tiba seperti kering kerontang, ia berujar, ?Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!? (Markus 15:39)

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.