3 jenis iman, biji sesawi, cangkokan, plastik

1 Feb 2019 | Kabar Baik

Salah satu hal ?revolusioner? yang dibawa Yesus ke dunia adalah bagaimana kita, manusia, jadi lebih mudah membayangkan hal-hal yang sebelumnya tak terbayangkan.

Sebelum Yesus, orang-orang tentu akan bingung membayangkan seperti apa Kerajaan Allah itu. Tapi hari ini, seperti ditulis oleh Markus, Kerajaan Allah diumpamakan Yesus sebagai sesuatu yang amat sederhana, biji sesawi.

?Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.” begitu kata Yesus dalam Markus 4:31-32.

Iman terhadapNya adalah iman bertunas lalu tumbuh secara khas dan alami dalam diri sebagai hal yang merupakan pemberian Allah.

Iman stek / cangkokan

Kalian tentu sudah tahu bahwa aku dan kawan-kawan punya grup diskusi di WhatsApp bernama Kabar Baik. Baru-baru ini aku juga membuat Facebook Page bernama Renungan Kabar Baik.

Apa yang terjadi barusan di grup diskusi WhatsApp hari-hari ini menarik. Beberapa member keluar karena tersengat dengan terapan aturan ketat yang kulayangkan. Aturan itu menghimbau supaya mereka tidak asal mem-forward pesan baik berupa tulisan, foto, video dan apapun ke grup WhatsApp Kabar Baik.

Alasanku? Meski tak semua pesan itu tak baik, tapi diskusi yang ingin kumunculkan dalam grup Kabar Baik adalah diskusi alami yang tumbuh dari kedalaman diri para anggota-anggotanya.  Aku percaya setiap dari kita memiliki kemampuan dasar untuk mengartikulasikan firman Allah dengan cara dan bahasa sendiri-sendiri, tak harus sama atau latah dari bagaimana orang lain mengintepretasikan imannya.

Iman yang latah dan asal ikut-ikutan adalah iman stek/cangkokan. Contohnya, hari minggu ke gereja bukan karena menemukan makna kenapa harus ke gereja melainkan karena ikut-ikutan saja. Hari-hari tertentu ke persekutuan doa bukan karena menemukan makna kenapa harus memuji dan menyembah Tuhan tapi karena kawan-kawan lain pada ikut. Atau saat ada yang perlu sumbangan, karena kawan lain menyumbang sekian maka ia tak mau kalah dan maunya nyumbang lebih besar.

Tak salah punya iman seperti itu tapi berhati-hati adalah kata yang tepat. Berhati-hati bahwa ketika tak ada yang diikuti dan dilatahi untuk berbuat baik dan benar, kita tetap harus baik dan benar. Itu saja.

Iman plastik

Suatu waktu aku pergi bersama istri dan anak-anak, jalan-jalan ke sebuah area perumahan baru di Sydney. Area itu begitu indah. Rumahnya bagus dan begitu rapi. Tapi ada yang menggelitik, rumput dan pohonnya sama semua. yang kumaksud sama adalah tinggi-rendahnya, jenis dan bahkan teksturnya juga!

Waktu kusentuh ternyata plastik!

Jangan sampai kita punya iman pohon plastik! Iman yang meski tampak indah dan tampak awet tapi sejatinya ia adalah iman-imanan. Iman yang memang tak pernah mati karena tak pernah hidup sekalipun!

Contoh iman pohon plastik adalah iman yang dimiliki orang-orang yang menjadikan hubungannya dengan Tuhan hanya sekadar aksesoris untuk memperindah hidupnya saja. Iman orang-orang yang ke gereja hanya supaya tampak alim, ke persekutuan doa supaya tampak aktif, menyumbang hanya supaya tampak dermawan. 

Tak perlu melongok pada orang lain. Teliti saja batin kita masing-masing, apakah yakin iman kita ini biji beneran atau biji-bijian. Pohon beneran atau pohon-pohonan?

Sydney, 1 Februari 2019

Klik di sini untuk gabung dalam Grup WhatsApp Kabar Baik. Atau klik di sini untuk ‘like’ Facebook Group Renungan Kabar Baik.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.