2019 dan tantangan untuk semakin menjadi terang

31 Des 2018 | Kabar Baik

Jumat lalu aku pergi ke Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah untuk bertemu dengan Bu Eleonora Suparlan dan nyekar di makam almarhum anaknya yang juga adalah sahabatku, almarhum Romo Ardi Handojoseno, SJ.

Dari Klaten, aku ditemani supir pergi ke arah Boyolali melalui jalanan pedesaan di kawasan lereng Gunung Merapi yang memaparkan pemandangan begitu indah nan menakjubkan.

Hingga akhirnya aku melihat pemandangan seperti tampak dalam foto di bawah ini.

Aku terkesima.
Pemandangan dalam foto itu tak kurang indah dari pemandangan alam yang ada di sekelilingnya.

Indah karena anak-anak itu tampak begitu lepas bebas bercanda dengan sesamanya. Mereka mengurai cinta menjadi sebuah interaksi ?dicintai? dan ?mencintai?.

Tapi di sisi lain, tiba-tiba muncul pikiran menggelitik dalam benak, ?Adakah ketika besar nanti mereka juga tetap akan bisa selepas-bebas itu saat bercanda?

Bagaimana jika si gadis kecil berbaju ungu yang bermata indah itu ketika besar memilih berganti agama karena calon suami memintanya? Adakah si cowok berkaos biru di dekatnya tetap mau menerima atau menjauhi karena beda?

Bagaimana pula jika si anak lelaki berkaos kuning di pinggir kereta itu memilih untuk menyoblos capres-cawapres yang berbeda dari si gadis kecil yang duduk di tengah? Adakah mereka tetap bisa saling bercengkrama tanpa harus membenci dan menjatuhkan atau gontok-gontokan seperti yang terjadi sekarang ini di antara dua kubu pendukung capres-cawapres?

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2018 dan besok kita diberi kesempatan untuk mencicipi tahun yang baru, 2019. 

Seru? Sepertinya demikian karena ajang pesta demokrasi diadakan dan sudah pasti akan menyedot perhatian begitu banyak orang! 

Bagaimana arah keseruannya? Siapa yang menang dan akan bagaimana? Tak ada yang tahu selain meunggu!  Tapi satu hal yang harus kita sepakati  sebagai umat Allah tanpa perlu mengulur waktu adalah dengan meminjam apa yang ditulis Yohanes hari ini, 

Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (lih. Yohanes 1:4-5)

Kita harus menjadi terang bagi sesama! Kita tak boleh menjadi bagian dari gelap! Titik!

Hidup tak berhenti hanya pada pemilihan saja. Masih ada begitu banyak hal yang harus kita kerjakan bersama-sama dengan sesama terlepas apakah pilihan capres-cawapresnya sama dengan kita!

Maka ketika nanti kita lelah di tengah ?perjalanan pesta demokrasi?  dan memerlukan ?oase?, pakai dan pandanglah foto di atas untuk meneduhkan. Bahwa kalau saat kecil dulu kita bisa lepas bebas bercanda dan bergaul dengan sesama, kenapa sekarang tidak bisa hanya karena suku, agama dan pilihan politik yang berbeda?

Selamat Tahun Baru 2019!
Mari menjadi terang bagi siapapun sesama kita termasuk mereka yang tak mau disama-samakan dengan kita sekalipun!

Klaten, 31 Desember 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Happy New Year my Bro, Gbu and your family too..

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.